Theo Hesegem: Menulis berdasarkan fakta adalah tembakan jitu yang sulit dibantah oleh siapapun

0
706
Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Pembela HAM) Direktur Eksekutip Theo Hesegem

Jayapura,KabarTifa.ID-Menulis artikel berdasarkan fakta- tak seorangpun bisa membantah artikel yang dimaksud kecuali penulisan membolak-balik fakta, penulisan membolak balik fata biasanya mendapat kritikan yang luar biasa dan sulit untuk membantah dan susah untuk mempertangung jawabkan.
Oleh karenanya saya tidak pernah menulis yang namanya bukan fakta atau Hoax.

Kalau menulis sesuai berdasarkan fakta, anda tidak akan mengalami sorotan dan dikritik oleh siapapun karena kalau anda menulis sesuai dengan fakta tulisan anda tidak akan dibantah, karena tulisan yang anda tulis adalah fakta dan merupakan senjata yang paling ampuh dan anda bisa menembus tembok dan tulisan itu merupakan tembakan jitu.

Oleh karena itu kalau mau menulis sesuai dengan fakta tidak mengunakan katanya-katanya, mungkin, atau saya dengar dari orang lain, atau orang cerita, kalau anda menulis seperti yang saya jelaskan di atas ini artikel dan tulisan anda orang tidak akan percaya karena bukan fakta dan selalu anda akan jadi pembohong dan penipu.

Untuk membuktikan fakta dalam penulisan artikel, anda selalu melakukan investigasi langsung datagi ke TKP Tempat Kejadian Perkara, lalu bertemu dengan semua pihak yang ikut terlibat dalam kasus apapun, dan kemudian hasil investigasi membuat laporan dan menyampaikan hasil Investigasi yang dimaksud kepada semua pihak.

Investigator yang baik dan bijaksana adalah kerja sesuai berdasarkan fakta, sehingga tidak selalu mengunakan katanya-katanya, mungkin atau dengar dari orang lain, kalau mengunakan Katanya-katanya, mungkin atau dengar dari orang lain anda tidak bisa disebut investigator yang profesional, tetapi anda akan menghadapi dengan dunia yang penuh tantangan dan beresiko atau anda terjun ke dunia pembohongan dan Dunia hoax dan kapanpun anda sulit dipercayai orang.

Saya punya pengalaman terkait dengan kasus Operasi Militer Kabupaten Nduga, waktu itu saya didampingi Bapak Yoris Raweyai Anggota DPD RI dan Almarhun Pdt. Esmon Walilo, S.Th, pertemuan yang dimaksud berlangsung, pada tanggal 17 Januari 2021, dengan agenda unuk menyerahkan laporan kasus operasi militer di Kabupaten Nduga Provinsi Papua.

Pertemuan yang dimaksud telah berlangsung di sekertariat Kepresidenan di Jakarta. Ketika saya menyerahkan laporan tersebut dan saya sampaikan laporan yang saya serahkan hari ini, sesuai dengan Fakta di lapangan. Apa yang saya tau, apa yang saya kerja dan apa yang saya lakukan, bukan laporan katanya-katanya dan mungkin, kemudian laporan yang dimaksud saya menyerahkan kepada staf Sekretariat Kepresidenan diistana Negara di Jakarta.
Setelah menyerahkan laporan yang dimaksud kita melakukan foto bersama dalam ruangan pertemuan.

Setelah menyerahkan laporan yang dimaksus, saya lanjutkan perjalanan saya ke Eropa disana saya mengunjungi 3 negara Jerman, Belanda dan Swiss disana saya diberikan kesempatan bertemu dengan beberapa orang yang peduli tentang situasi pelanggaran Ham di Kabupaten Nduga, saya juga diminta membawah materi dalam seminar-seminar tentang kasus Nduga. Saya hadir sebagai narasumber terkait kasus Nduga.

Saya sempat bertemu dengan Kementerian luar Negeri Jerman dan Belanda, mereka sampaikan kami senang bertemu dengan anda, kami hanya mau mendengar dari anda, karena anda yang lebi tau kondisi yang terjadi disana karena anda yang investigasi lasung di lapangan. Sehingga kami senang mendengar dari anda.

Saya juga sampaikan sudah berkali-kali saya ke Nduga, setiap kasus yang terjadi disana selalu saya investigasi langsung ke Tempat Kejadian Perkara, dan saya tau apa yang terjadi terhadap masyarakat sipil di Kabupaten Nduga. Sehingga saya akan menjelaskan apa yang saya tau, apa yang saya kerja dan apa yang saya lakukan, saya tidak akan menjelaskan kata orang lain. Dan saya tidak akan menjelaskan yang dikerjakan oleh orang lain atau Katanya-katanya dalam pertemuan ini.

Dalam seminar-seminar di Negara Jerman dan Belanda juga saya sampaikan hal yang sama, terakhir saya membawah materi di Negara Swis
dalam pertemuan juga saya sampaikan hal yang sama. Setelah saya menjelaskan materi kasus Nduga di Swis, pada tanggal 11 Pebruari 2021, perwakilan Indonesia yang hadir ia sempat bertanya.

Pak Theo di Papua banyak OPM mereka menempati di honai-honai kata dia, saya balik bertanya anda tau dari mana ? Apakah anda pernah pergi ke Papua, ia menjawab tidak pak katanya begitu. Saya sampaikan bahwa pak kalau tidak tau kondisi yang sebenarnya anda tidak boleh menceritakan kata orang lain atau katanya-katanya dalam pertemuan ini, karena anda sendiri belum lihat apa yang sebenarnya terjadi disana.

Suatu saat saya menulis Artikel tentang pengiriman Pasukan yang sangat berlebihan di Papua saya memberi judul ” Pengiriman Pasukan berlebihan di Papua Barat Mempercepat Papua Lepas dari NKRI ” tidak lama kemudian saya ditelpon oleh sesorang setelah membaca dan melihat artikel saya. ia mengatakan pak Theo saya sedang membaca artikel pak Theo ujarnya.

Saya menjawab baik pak, artikel saya yang mana ? Artikel pak Theo yangjudulnya” Pengiriman Pasukan Berlebihan di Papua Barat Mempercepat Papua Lepas dari NKRI ” oke baik pak kata Theo Hesegem.
Menurut dia pemerintah pusat mengirim pasukan ke Papua karena ada OPM, kalau tidak ada OPM di Papua tidak mungkin Pemerintah pusat mengirim Pasukan Pak Theo.

Baik pak menurut saya pasukan banyak yang di kirim ke Papua, bangsa kita akan mendapat sorotan oleh masyarakat internasional, memang Pemerintah mengirim pasukan dalam rangka penegakan hukum, namun menurut saya penegakan hukum tidak dapat berhasil dan gagal.

Mengapa Egianus Kogoya dan Kawan-kawannya, tidak ditangkap, sedangkan saya ketahui bahwa selama ini anggota TNI selalu membunuh dan menghilangkan nyawa warga masyarakat sipil yang sama sekali tidak tau masalah apa-apa, sehingga saya selalu mengatakan penegakan hukum yang keliru.

Sehingga proses hukum yang diharapkan pemerintah pusat tidak terwujud, sedangkan kita ketahui hukum di negara kita adalah panglima tertinggi.

Saya punya beberapa laporan dan fakta mungkin saya akan mengirim laporan dan fakta yang terjadi di Kabupaten Nduga, sayapun mengirim beberapa laporan Operasi Militer kepada sobat saya itu , namun sampai hari ini sobat saya itu tidak pernah membalas.

Baru-baru ini kami ada pertemuan dan diskusi dengan seseorang tentang artikel saya, dia mengatakan pak Theo kita ada UU ITE sehingga kalau mau menulis baik tetapi jangan ada penghinaan dalam artikel apa lagi beritanya di ekspos di media massa dan bisa di proses kata dia.

Saya tidak ragu sedikitpun untuk menjawab terkait komentar, saya adalah Investigator, bagi saya kritikan adalah hal yang biasa, saya tidak mau membantah pernyataan yang dimaksud.

Pernyataan itu saya harus menerima karena itu sebagai bahan masukan dan saran untuk saya rajin menulis artikel sesuai dengan Fakta. Dalam kesempatan itu juga saya sampaikan bahwa ” Setiap artikel yang saya biasa menulis dari tangan saya, Saya tidak meragukan setiap artikel yang saya menulis, tangan saya selalu menulis artikel di leptop dan HP, saya selalu menulis Fakta bukan katanya-katanya atau mungkin.

Oleh karena itu, saya tidak pernah meragukan tulisan saya, karena menulis fakta yang ada dilapangan, karena setiap artikel yang ditulisnya harus dipertanggung jawabkan oleh penulis artikel. Karena itu setiap arikel saya, selalu mencantumkan nama lengkap dan nomor telpon, dengan tujuan bagi mereka yang tidak rasa puas dengan artikel saya mereka bisa menelpon saya langsung dan bertanya.

Wamena, 28 Oktober 2021

Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Pembela HAM)

Direktur Eksekutip

Theo Hesegem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here