Anggota DPR RI YPM Minta Aparat Kejar, Tangkap dan Ekseskusi Kelompok Yang Lakukan Kejahatan di Papua

0
27
Yan Mandenas sedang berikan keterangan terkait kkelompok kriminaal bersenjata yang menembak masyarakat sipil, Senin, (18/7/2022)

Jayapura. KabarTifa.id- Terkait dengan pembantaian 13 warga sipil non Papua hingga tewas di Kabupaten Nduga beberapa waktu lalu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonaesia (DPR RI) Yan Permenas Mandenas meminta kepada aparat keamanan untuk kejar, tangkap dan eksekusi karena tidak ada toleransi bagi kelompok yang melakukan kejahatan di Papua. Selain itu melakukan penanganan terpadu dan tidak mengedepankan ego sektoral.

“Kita minta kepada aparat untuk kejar tangkap dan eksekusi. Tidak ada toleransi buat kelompok yang melakukan kejahatan di Papua, supaya kedepannya mereka tidak melakukan hal yang sama. Karena pembantaian di Beoga baru selesai 8 orang, sekarang pembantaian terhadap 13 orang lagi di Nduga, dan saya pikir tidak dibenarkan.
Kita akan minta panglima TNI untuk merubah kembali pola penanganan keamanan di Papua, sehingga operasi-operasi tertentu harus dilakukan untuk memulihkan situasi keamanan dan konflik yang terus meningkat di Kabupaten Nduga. Agar pola penanganan keamanan di Papua ini harus penanganan terpadu dan kita dorong dan tidak mengedepankan ego sektoral. Sehingga konflik ini tidak selesai,” pinta Yan Permenas Mandenas, Anggota DPR RI, saat melakukan jumpa pers dengan wartawan di Jayapura, Senin, (18/7/2022)

Harus ada mapping secara komprehensif dengan tujuan untuk melakukan klasifikasi daerah-daerah mana yang masuk rawan konflik tinggi, rendah dan sedang.

“Kita minta untuk ke depan harus ada mapping secara komprehensif dengan  tujuan supaya melakukan klasifikasi daerah mana yang masuk klasifikasi rawan konflik dan daerah mana yang klasifikasinya intensitas konfliknya tinggi rendah dan sedang. Setelah itu baru kemudian menetapkan strategi penanganan, baik dari aspek keamanan, aspek intelejen, aspek pertahanannya. Sehingga tidak semua wilayah di Papua ditangani dengan pola yang sama. Karena kalau ditangani  dengan pola yang sama,  akhirnya masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa jadi korban.  Ditambah lagi dengan provokasi elit-elit  yang berkembang dari waktu ke waktu,” tegas Mandenas.

Mandenas sampaikan agar masyarakat tidak terprovokasi dengan isu-isu yang berkembang dari oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Jadi ini yang saya sampaikan bahwa hari ini isu tentang DOB Otsus ini dikaitkan juga dengan berbagai macam konflik di Papua, bahwa orang di Papua takut kalau pemekaran nanti orang Papua jadi orang yang terpinggirkan dan lain sebagainya, saya pikir itu tidak benar karena, hari ini Gubernur, Bupati, Walikota, Orang Asli Papua,” ungkapnya.

“Jadi saya katakan bahwa ada orang yang bukan Papua tapi hatinya lebih Papua daripada orang Papua. Jadi kita tidak bisa mengembangkan pikiran dan image seperti itu yang berkembang di masyarakat, itu menimbulkan pro kontra  dan konflik dan bermunculan.
Saya ajak untuk mari kita belajar menerima kekurangan kita, dan menerima kelebihan orang lain, untuk bahu- membahu bangun Papua  sama-sama. Suatu saat kalau orang Papua SDM nya siap, kita akan memimpin di semua sektor sendiri, dan orang lain akan mengikuti kita. Tapi jangan kita paksakan kehendak, bahwa kita ini ibarat anak yang baru lahir langsung mau jalan, tidak bisa,” pinta Mandenas.

“Jadi kita berusaha meminimalisir konflik dan menyampaikan kepada saudara-saudara kita supaya jangan kita turut memprokasikan mereka akhirnya mereka menganggap bahwa saudara-saudara kita yang lain yang masuk ke gunung sebagai ancaman.
Tidak usah jauh-jauh simpel yang kecil saja, kalau orang Sulawesi tidak buka kios di pegunungan apakah orang di pegunungan bisa makan, kan tidak. Jadi bersyukur ada orang yang bisa datang bikin kios di tempat kita, kita bisa beli dengan duit kita bisa makan, dan itu kita harus bersyukur. Tapi jangan kita menganggap mereka sebagai ancaman. Ini yang kadang-kadang tidak bisa dilihat dari sisi positifnya. Sehingga kita menganmenganggap bahwa saudara-saudara kita yang lain yang masuk ke gunung sebagai ancaman.
Tidak usah jauh-jauh simpel yang kecil saja, kalau orang Sulawesi tidak buka kios di pegunungan apakah orang di pegunungan bisa makan, kan tidak. Jadi bersyukur ada orang yang bisa datang bikin kios di tempat kita, kita bisa beli dengan duit kita bisa makan, dan itu kita harus bersyukur. Tapi jangan kita menganggap mereka sebagai ancaman. Ini yang kadang-kadang tidak bisa dilihat dari sisi positifnya. Sehingga kita menganggap bahwa saudara-saudara kita yang datang ini menjadi ancaman dan kita bantai,” kata Mandenas.

“Kita minta panglima TNI untuk merubah kembali pola penanganan keamanan di Papua, sehingga operasi-operasi tertentu harus dilakukan untuk memulihkan situasi keamanan dan konflik yang terus meningkat di Kabupaten Nduga,” tandas Mandenas. (cel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here