Eks Co-Founder Multicoin Hujat Kripto, VC Malah Borong!
KabarTifa- Dunia investasi kripto kembali dihebohkan oleh sebuah kontroversi yang melibatkan nama besar. Kyle Samani, mantan salah satu pendiri Multicoin Capital yang berpengaruh, secara mengejutkan melontarkan kritik tajam terhadap proyek Hyperliquid (HYPE). Ironisnya, kritik ini muncul tak lama setelah terungkapnya data on-chain yang menunjukkan entitas terafiliasi dengan Multicoin Capital justru telah mengakumulasi token HYPE senilai puluhan juta dolar.
Drama ini bermula setelah Samani mengumumkan pengunduran dirinya dari Multicoin Capital pada 5 Februari 2026, menandai berakhirnya hampir satu dekade kepemimpinannya di salah satu firma modal ventura kripto terkemuka. Dalam pernyataannya, Samani menegaskan akan tetap aktif di industri kripto, khususnya di ekosistem Solana, melalui perannya sebagai Chairman di Forward Industries, sebuah entitas yang berfokus pada pengembangan infrastruktur blockchain.
Namun, kejutan sebenarnya datang tiga hari kemudian. Samani secara terbuka menyerang Hyperliquid, platform pertukaran perpetual futures yang dikenal dengan likuiditas tinggi dan biaya rendah. Ia menuding Hyperliquid sebagai proyek yang "salah dalam segala hal," menyoroti sifatnya yang tertutup (closed) dan membutuhkan izin (permissioned), sebuah model yang dinilai bertentangan dengan etos desentralisasi murni yang selalu ia perjuangkan.
Spekulasi Konflik Internal di Multicoin
Kontradiksi mencolok ini semakin memanaskan situasi. Laporan data on-chain menunjukkan bahwa sejumlah dompet digital yang secara luas dikaitkan dengan Multicoin Capital telah mengakumulasi token HYPE senilai lebih dari 40 juta dolar AS dalam sebulan terakhir. Fakta ini sontak memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan adanya konflik internal atau perbedaan filosofi investasi yang mendalam antara Samani dan tim investasi Multicoin, yang mungkin menjadi pemicu di balik pengunduran dirinya.
Sementara Samani menekankan pentingnya desentralisasi sejati dan keterbukaan kode sumber, langkah Multicoin yang agresif dalam mengakumulasi HYPE justru menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis. Mereka tampaknya memprioritaskan potensi profit tinggi dan eksposur likuiditas instan, bahkan jika itu berarti memilih proyek dengan struktur yang masih terpusat. Pernyataan Samani pun memicu perdebatan sengit tentang strategi investasi terbaik dalam lanskap kripto yang terus berkembang.
Idealisme Desentralisasi vs. Pragmatisme Profit
Menurut analisis Tim Research Tokocrypto, insiden ini secara gamblang menyingkap dilema fundamental yang dihadapi banyak venture capital (VC) di ranah kripto: "Idealisme Desentralisasi versus Pragmatisme Profit." Para analis menjelaskan bahwa Samani, di satu sisi, adalah advokat kuat untuk infrastruktur blockchain yang sepenuhnya terdesentralisasi, mengedepankan transparansi, partisipasi komunitas, dan nilai fundamental jangka panjang.
Namun, di sisi lain, strategi investasi seperti akumulasi HYPE oleh Multicoin menunjukkan bahwa institusi besar kini semakin bersedia mempertimbangkan proyek yang mampu menawarkan likuiditas tinggi dan adopsi pengguna nyata, meskipun struktur internalnya tidak sepenuhnya terbuka atau sepenuhnya terdesentralisasi. "Jika Multicoin berani bertaruh besar ($40 juta) pada HYPE meskipun ditentang oleh pendirinya sendiri, ini adalah sinyal High Conviction (keyakinan tinggi) dari institusi terhadap model bisnis Hyperliquid," ujar Tim Research Tokocrypto.
Bagi investor institusional, hal ini bisa dibaca sebagai sinyal keyakinan tinggi terhadap potensi pertumbuhan Hyperliquid. "Bagi investor ritel, ini bisa dibaca sebagai sinyal bullish untuk HYPE, karena institusi tampaknya bersedia mentolerir risiko sentralisasi demi mengejar likuiditas dan adopsi pengguna yang nyata," tutup Tim Research Tokocrypto.
Reaksi Komunitas dan Ketahanan HYPE
Komentar Samani sontak memicu perdebatan sengit di kalangan komunitas kripto. Sebagian setuju dengan pandangannya, menyerukan standar desentralisasi yang lebih ketat. Namun, tak sedikit pula yang membela Hyperliquid, menekankan nilai nyata yang ditawarkan proyek tersebut melalui likuiditas yang kuat dan peluang trading yang menguntungkan. Hal ini mencerminkan adanya pertentangan yang lebih luas di antara pelaku pasar mengenai apa yang sebenarnya merupakan "nilai fundamental" dalam proyek blockchain.
Menariknya, terlepas dari badai kritik publik, token HYPE menunjukkan ketahanan yang relatif kuat di pasar. Ini mengindikasikan bahwa minat investor mungkin lebih didorong oleh peluang utilitas dan likuiditas praktis ketimbang narasi reputasional semata. Perdebatan ini juga membuka ruang untuk diskusi lebih luas tentang bagaimana investor, baik ritel maupun institusional, harus mengevaluasi proyek kripto di tengah lanskap yang terus berkembang.
Lebih dari sekadar drama individu atau proyek tunggal, insiden ini merefleksikan konflik ideologi dan strategi investasi yang lebih dalam di industri kripto. Ini adalah pertarungan antara mereka yang memimpikan masa depan sistem desentralisasi murni dan mereka yang mengejar efisiensi, adopsi massal, serta profit melalui pendekatan yang lebih pragmatis. Dengan spekulasi yang terus bergulir dan data on-chain yang terus dipantau, dinamika ini diprediksi akan menjadi salah satu narasi utama yang membentuk pasar kripto sepanjang tahun 2026.
Editor: BobonSyah
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
