Storj Anjlok 17% Usai Storj Labs Ajukan Perlindungan Bangkrut
KabarTifa.ID – 28 Juli 2026 | Harga token Storj (STORJ) mengalami penurunan tajam hingga 17% setelah Storj Labs, perusahaan di balik jaringan penyimpanan awan terdesentralisasi (decentralized cloud storage) Storj, secara resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat. Peristiwa ini sontak mengguncang pasar kripto dan memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan proyek infrastruktur terdesentralisasi di tengah tantangan ekonomi.
Menurut data dari Tim Research Tokocrypto, token STORJ diperdagangkan di kisaran US$0,06271. Penurunan ini memperpanjang tren bearish yang telah dialami STORJ sejak berakhirnya siklus bull market kripto sebelumnya. Token ini kini telah merosot sekitar 99% dari nilai tertingginya (all-time high) di US$3,91 yang dicapai pada tahun 2021, dan melemah sekitar 79% dalam satu tahun terakhir.
Chapter 11: Langkah Restrukturisasi Storj Labs
Storj Labs mengumumkan pengajuan perlindungan Chapter 11 secara sukarela ke U.S. Bankruptcy Court for the Northern District of West Virginia pada 26 Juli. Langkah ini diambil untuk merestrukturisasi kewajiban lama atau legacy liabilities, sembari memastikan operasional inti bisnis tetap berjalan tanpa gangguan. Kaloyan Raev, Director of Software Engineering Storj, menyebut langkah ini sebagai keputusan positif dan tegas, menekankan bahwa fundamental bisnis Storj masih kuat, namun beban kewajiban masa lalu menjadi kendala.
Melalui proses restrukturisasi ini, Storj Labs berupaya membangun fondasi keuangan yang lebih sehat. Menariknya, perusahaan menyatakan bahwa manajemen, pemegang token, komunitas terdesentralisasi, dan investor akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kepemilikan perusahaan yang direorganisasi. Hal ini merupakan langkah yang cukup langka dan menunjukkan upaya Storj untuk melibatkan ekosistemnya dalam proses pemulihan.
Storj Labs juga mengkonfirmasi bahwa mereka telah mempersempit fokus bisnisnya pada layanan penyimpanan awan terdesentralisasi yang menjadi inti. Perusahaan telah menghentikan beberapa operasi non-inti dan keluar dari akuisisi sebelumnya. Parent company Inveniam memberikan dukungan penuh terhadap proses restrukturisasi ini, menilai Chapter 11 sebagai jalur yang tepat untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.
Dari ICO Jutaan Dolar ke Restrukturisasi
Storj Labs memiliki sejarah panjang di industri blockchain. Proyek ini merupakan salah satu yang cukup dikenal pada era initial coin offering (ICO) tahun 2017, berhasil menggalang dana sekitar US$30 juta melalui penjualan token STORJ berbasis Ethereum hanya dalam tujuh hari. Jika digabungkan dengan putaran pendanaan lainnya, Storj telah mengumpulkan total sekitar US$35 juta. Pada masanya, Storj memposisikan diri sebagai alternatif terdesentralisasi untuk pusat data tradisional, menyoroti kemitraan dengan raksasa teknologi seperti Microsoft Azure dan Heroku.
Namun, hampir satu dekade setelah ICO, perusahaan harus menghadapi kenyataan pahit memasuki proses restrukturisasi. Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh banyak proyek infrastruktur blockchain lama, terutama yang dibangun di masa ekspansi pasar kripto sebelumnya. Bagi token STORJ, kabar pengajuan Chapter 11 menjadi tekanan besar, karena pasar melihat risiko terhadap keberlanjutan perusahaan meskipun operasional jaringan diklaim tetap berjalan normal. Kondisi ini kembali menekankan sentimen pasar yang sangat bergantung pada kesehatan perusahaan pengembangnya, bahkan untuk proyek yang mengusung desentralisasi.
Gelombang Restrukturisasi Kripto Berlanjut
Pengajuan Chapter 11 oleh Storj Labs menambah daftar panjang perusahaan kripto yang melakukan restrukturisasi atau menghentikan operasionalnya di bulan Juli 2026. Sebelumnya, Movement Labs mengajukan perlindungan kebangkrutan Subchapter V pada 15 Juli, diikuti oleh Poolin yang masuk proses kebangkrutan pada 22 Juli dan mulai menjual aset miningnya. BitMEX juga mengumumkan penutupan operasional setelah 11 tahun, sementara BitMart menyampaikan rencana penghentian operasi platform tradingnya secara bertahap. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan kripto kini mulai merasakan beban kewajiban yang terakumulasi sejak masa ekspansi bull market sebelumnya.
Kasus Storj menjadi perhatian khusus karena menyentuh salah satu janji utama dari konsep Decentralized Physical Infrastructure (DePIN). Jika jaringan Storj benar-benar dapat terus beroperasi secara stabil meskipun perusahaan di baliknya melakukan restrukturisasi, hal ini dapat menjadi argumen kuat bahwa infrastruktur terdesentralisasi memang memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan model perusahaan tradisional. Namun, reaksi pasar terhadap token STORJ menunjukkan bahwa sentimen investor masih sangat sensitif terhadap kesehatan finansial entitas sentral di balik proyek tersebut.
Fokus utama pasar saat ini adalah apakah Storj Labs dapat berhasil menjalani proses Chapter 11 tanpa mengganggu layanan pelanggan dan jaringan penyimpanan awan terdesentralisasi. Jika operasional tetap stabil, tekanan pada token STORJ dapat mulai mereda. Namun, jika restrukturisasi justru menimbulkan ketidakpastian baru, token STORJ berisiko terus berada dalam tren pelemahan. Perjalanan Storj Labs dalam proses kebangkrutan ini akan menjadi studi kasus penting bagi masa depan proyek DePIN dan infrastruktur blockchain secara umum.

