Industri Aset Digital Bergerak Melampaui Spekulasi, Tiga Pilar Kunci Menuju Kematangan
KabarTifa.ID – 24 Agustus 2026 | Industri aset digital kini menunjukkan pergeseran signifikan, bergerak melampaui narasi spekulasi murni dan kenaikan harga. Kemunculan produk inovatif seperti tokenized stocks, peningkatan keterlibatan institusi, serta kebutuhan mendesak akan edukasi dan pengelolaan risiko menjadi indikator kuat bahwa sektor ini sedang memasuki fase kematangan. Dalam diskusi yang digelar di Bali pada Jumat, 21 Agustus 2026, para pelaku industri sepakat bahwa Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi, dan Regulasi Jadi Kunci utama bagi pertumbuhan berkelanjutan.
Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, menyoroti bagaimana pandangan masyarakat terhadap aset kripto telah berevolusi. “Dulu, aset kripto mungkin dianggap seperti scam. Saat ini, regulasinya sudah jauh lebih jelas dan perlindungan konsumen juga semakin diperkuat. Memang dulu lebih sulit, tetapi sekarang sudah jauh lebih mudah,” ujar Calvin dalam sesi “Navigating the Future: Macroeconomics, Regulation, and the Path to Mainstream Crypto in Indonesia” yang merupakan bagian dari Coinfest 2026. Diskusi ini turut menghadirkan Ferry Irwandi (Founder Malaka Project) dan Gema Goeyardi (Founder ASTRONACCI), serta dimoderatori oleh Yudhono Rawis (Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Blockchain Indonesia/ABI). Kehadiran Uli Agustina dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menandakan adanya perhatian regulator terhadap perkembangan ini.
Tokenisasi: Menjembatani Keuangan Tradisional dan Web3
Salah satu perkembangan paling menonjol yang disorot adalah semakin luasnya penggunaan teknologi aset digital untuk membuka akses ke instrumen keuangan. Tokenized stocks, misalnya, menawarkan cara yang lebih fleksibel dan mudah bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke saham-saham global. “Banyak orang ingin berinvestasi di saham Amerika, tetapi sebelumnya harus membuka brokerage account di luar negeri dan melalui banyak layer. Dengan tokenized stocks, aksesnya menjadi lebih mudah,” jelas Calvin. Inovasi ini mencerminkan potensi besar aset digital dalam menjembatani kesenjangan antara ekosistem keuangan tradisional dan teknologi Web3.
Edukasi dan Investasi Jangka Panjang: Kunci Menghindari Euforia Pasar
Namun, kemudahan akses saja tidak cukup. Calvin Kizana menegaskan pentingnya edukasi sebagai fondasi utama. “Edukasi itu sangat penting. Tanpa edukasi, akhirnya orang hanya FOMO dan berinvestasi secara asal. Kami sangat mengedepankan edukasi sebelum mereka benar-benar berinvestasi, supaya mereka tahu apa yang mereka investasikan, bukan hanya mengejar cuan-nya,” tegasnya. Pandangan ini diamini oleh Gema Goeyardi, yang menambahkan bahwa kematangan industri harus diiringi dengan perubahan perilaku investor. Budaya “get-rich-quick” harus ditinggalkan, dan investor perlu memahami profil risiko serta melakukan pengelolaan portofolio yang baik, terutama dengan semakin beragamnya instrumen seperti futures.
Ferry Irwandi melihat perkembangan aset digital sebagai bagian tak terpisahkan dari transformasi teknologi yang lebih luas. Ia menekankan bahwa cryptocurrency telah menunjukkan ketahanan melalui berbagai siklus pasar dan kini harus dilihat lebih dari sekadar pergerakan harganya. “Cryptocurrency selalu disebut sebagai masa depan. Artinya, kita memang seharusnya melihat ke masa depan,” ujarnya. Ferry juga menyoroti perlunya memberikan pemahaman yang lebih baik kepada generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital agar partisipasi mereka dalam industri ini lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan demikian, Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi, dan Regulasi Jadi Kunci untuk partisipasi yang lebih luas dan bertanggung jawab.
Menuju Ekosistem Aset Digital 24/7 Melalui Tokenisasi Aset Dunia Nyata
Sesi kedua diskusi, “The Mechanics of Market Dynamics: Tokenizing Real-World Assets, Base Infrastructure, and Algorithmic Liquidity”, semakin memperdalam pembahasan tentang potensi tokenisasi. Rohit Mulani dari Alpaca memprediksi bahwa tokenisasi aset dunia nyata (RWA) akan mendorong pasar keuangan menuju sistem yang beroperasi 24/7. “Kita bergerak menuju pasar 24/7, 365 hari. Jam bursa dan jam perbankan akan semakin tidak relevan, sementara modal dapat berpindah lebih mudah antara aset likuid dan aset produktif,” katanya.
Nicholas Soong dari Circle menyoroti efisiensi modal yang dapat dicapai melalui tokenized money market funds, di mana aset yang digunakan sebagai jaminan (collateral) tetap dapat menghasilkan imbal hasil. Dharmawan Tjokro dari Xenorize menambahkan bahwa perkembangan ini akan meningkatkan akses investor ritel ke pasar modal dan mendorong adopsi teknologi seperti algorithmic trading. Namun, ia mengingatkan pentingnya pemahaman investor terhadap risiko dan mekanisme aset yang diperdagangkan.
Tantangan Regulasi dan Fragmentasi Likuiditas
Meskipun potensi inovasi sangat besar, para panelis sepakat bahwa regulasi yang jelas dan penanganan fragmentasi likuiditas masih menjadi tantangan utama dalam memperluas adopsi tokenized assets. Diperlukan kolaborasi erat antara pelaku industri aset digital, institusi keuangan tradisional, bursa, dan regulator untuk memastikan inovasi dapat berkembang secara terukur sambil tetap memberikan perlindungan maksimal bagi pengguna. Kematangan industri aset digital sangat bergantung pada bagaimana tantangan-tantangan ini dapat diatasi secara efektif, menegaskan kembali bahwa Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi, dan Regulasi Jadi Kunci yang saling terkait.
Perlu dipahami bahwa tokenized stocks, sebagai contoh produk, mengacu pada saham referensi yang mengikuti pergerakan harga saham acuan, namun tidak memberikan hak kepemilikan seperti suara atau dividen. Meskipun dapat diperdagangkan di luar jam pasar saham tradisional, harga dan likuiditasnya dapat berfluktuasi. Penting bagi setiap pengguna untuk selalu memahami risiko tinggi yang melekat pada perdagangan aset kripto dan membuat keputusan investasi secara mandiri.
Di tengah dinamika yang terus berkembang, fokus pada tokenisasi, edukasi yang mumpuni, dan kerangka regulasi yang adaptif menjadi pilar fundamental yang akan menentukan arah dan keberlanjutan masa depan industri aset digital.

