ETH Anjlok 6 Bulan, Institusi Diam-diam Borong Besar!
KabarTifa- Harga Ethereum (ETH) terus menghadapi tekanan berat, mencatat penurunan selama enam bulan berturut-turut, sebuah tren bearish terpanjang sejak pasar kripto tahun 2018. Dengan aset kripto terbesar kedua ini masih diperdagangkan di bawah level psikologis US$2.000, banyak investor ritel mungkin dilanda kekhawatiran. Namun, di balik koreksi yang mendalam ini, aktivitas pembelian dari investor institusional justru melonjak tajam, mengindikasikan keyakinan kuat terhadap potensi jangka panjang ETH.

Data on-chain yang dihimpun berbagai sumber menunjukkan adanya pergerakan agresif dari sejumlah institusi besar yang mulai mengakumulasi ETH pada pekan ketiga Februari 2026. Lookonchain, misalnya, mencatat Tom Lee, pendiri Fundstrat sekaligus pimpinan Bitmine, melakukan pembelian masif pada 18 Februari dengan menambah 35.000 ETH, senilai sekitar US$69,37 juta. Pembelian ini terbagi menjadi 20.000 ETH dari BitGo dan 15.000 ETH dari FalconX. Tak hanya itu, data dari OnchainLens juga melaporkan K3 Capital turut memborong 20.000 ETH senilai sekitar US$40,08 juta dari Binance.
Peningkatan signifikan pada aliran dana menuju alamat akumulasi ETH juga dilaporkan oleh CryptoRank dan CryptoQuant. CryptoQuant bahkan menyebut aktivitas inflow ini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, menandakan investor jangka panjang memanfaatkan momen harga rendah untuk menambah kepemilikan. Pola ini disebut-sebut mirip dengan kondisi tahun 2018, di mana ETH sempat terpuruk selama tujuh bulan sebelum akhirnya bangkit dan memasuki fase pemulihan.
Di sisi lain, dinamika suplai ETH juga menarik perhatian. Santiment mengungkapkan bahwa lebih dari 50% total suplai ETH kini telah terkunci dalam kontrak Proof-of-Stake (PoS) untuk staking. Ini adalah kali pertama dalam sejarah 11 tahun Ethereum, sebagian besar pasokan asetnya tidak beredar bebas di pasar. Everstake menilai, peningkatan staking ini berpotensi besar mengurangi tekanan jual dan membuat harga ETH lebih responsif terhadap permintaan baru. Kondisi ini menciptakan kelangkaan suplai likuid yang signifikan di bursa.
Meski demikian, sejumlah analis, termasuk BeInCrypto, tetap memperingatkan potensi penurunan lebih lanjut hingga US$1.385 dalam jangka pendek jika sentimen negatif terus mendominasi pasar. Namun, data akumulasi institusional yang kuat memberikan sinyal bahwa "smart money" tetap optimis terhadap potensi pemulihan ETH dalam jangka panjang.
Menurut Tim Research Tokocrypto, manuver "smart money" di tengah ketakutan ritel menunjukkan keyakinan fundamental yang kuat. Mereka berpendapat, ini adalah "setup klasik untuk potensi supply shock; saat tangan-tangan lemah keluar, institusi terus membangun pondasi untuk pemulihan jangka panjang yang lebih stabil." Fenomena ini, seperti yang diulas kabartifa.id, menggambarkan paradoks menarik di pasar kripto: di saat harga tertekan, investor besar justru melihat peluang emas.
Editor: BobonSyah

