KabarTifa- Pasar kripto, khususnya Ethereum (ETH), tengah menghadapi periode krusial dengan sinyal pelemahan yang semakin kentara. Aktivitas perdagangan di pasar derivatif, atau futures, kini tercatat jauh melampaui pasar spot, mengindikasikan pergeseran fokus investor ke spekulasi jangka pendek di tengah gejolak makroekonomi global.
Fenomena ini terungkap dari data terbaru yang menunjukkan rasio volume perdagangan spot terhadap futures Ethereum di platform Binance telah merosot ke titik terendah sejak berakhirnya fase bear market pada tahun 2023. Saat ini, volume transaksi kontrak berjangka ETH dilaporkan mencapai lebih dari enam kali lipat dibandingkan volume di pasar spot. Analisis dari Crypto Quant menggarisbawahi bahwa dominasi pasar derivatif ini mencerminkan aktivitas perdagangan yang lebih banyak didorong oleh spekulasi dan pergerakan harga jangka pendek, alih-alih permintaan riil untuk kepemilikan aset.

Minat Terbuka Ethereum Anjlok Signifikan
Tak hanya itu, minat terbuka (open interest) Ethereum di Binance juga mengalami kontraksi signifikan. Sejak awal Januari 2024, open interest tercatat anjlok sekitar 400.000 ETH, atau setara dengan nilai hampir US$4 miliar. Penurunan ini mengindikasikan bahwa banyak pelaku pasar memilih untuk menutup posisi mereka di pasar derivatif, meskipun volume futures yang tinggi menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan masih berpusat pada kontrak jangka pendek, bukan akumulasi aset secara langsung.
Tim Riset Tokocrypto memberikan pandangan kritis terkait struktur pasar ini. Mereka menyatakan bahwa kondisi demikian membuat pasar ETH menjadi lebih rentan dan rapuh, sebab pergerakan harga lebih banyak dipicu oleh leverage ketimbang permintaan spot yang sehat dan berkelanjutan. "Selama arus beli spot belum pulih, risiko terjadinya whipsaw (pergerakan harga tajam dan cepat), squeeze singkat (pemaksaan penutupan posisi), dan potensi penurunan lanjutan masih sangat tinggi," demikian peringatan dari tim riset tersebut.
Tekanan Makroekonomi Global Memperparah Sentimen
Pelemahan ini tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang tekanan makroekonomi global yang kian memanas. Ketegangan geopolitik, seperti yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran, telah memicu kenaikan harga minyak dunia, berpotensi memperparah tekanan inflasi. Data inflasi terbaru di AS menunjukkan core CPI berada di level 2,5% secara tahunan, sementara core PCE mencapai 3,1%.
Kombinasi kenaikan harga energi dan inflasi yang persisten membuat investor cenderung menarik diri dari aset-aset berisiko tinggi seperti kripto. Di samping itu, penguatan nilai tukar dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang juga turut mengurangi daya tarik investor terhadap aset digital.
Ethereum Menjadi Salah Satu yang Paling Terdampak
Di antara jajaran aset kripto utama, Ethereum tampaknya menjadi salah satu yang paling merasakan dampak dari konstelasi faktor-faktor ini. Melemahnya permintaan di pasar spot secara jelas mengindikasikan bahwa minat investor untuk mengakumulasi ETH secara langsung masih terbatas. Beberapa analis bahkan mengemukakan kemungkinan adanya tekanan jual tambahan dari entitas besar seperti Ethereum Foundation atau tokoh-tokoh industri, meskipun spekulasi ini belum mendapatkan konfirmasi resmi.
Dengan kombinasi tekanan makroekonomi dan perubahan fundamental dalam struktur pasar, pergerakan harga Ethereum dalam waktu dekat diperkirakan akan sangat bergantung pada sejauh mana pemulihan permintaan di pasar spot dapat terjadi, serta perkembangan kondisi ekonomi global secara keseluruhan. Investor disarankan untuk memantau dengan cermat dinamika ini.
Editor: BobonSyah


