Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Disklaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    • Tentang Kami
    • Indexs Post
    • Privacy Policy
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KabarTifa.IDKabarTifa.ID
    KabarTifa.IDKabarTifa.ID
    Home - Crypto - Benarkah "Red September" Akan Menghantam Bitcoin?
    Crypto

    Benarkah "Red September" Akan Menghantam Bitcoin?

    Tifa AnggrainiBy Tifa Anggraini30-08-2025 - 19.15Tidak ada komentar2 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Benarkah "Red September" Akan Menghantam Bitcoin?
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    KabarTifa- Bulan Agustus hampir berakhir, dan Bitcoin bergerak sideways di bawah support US$ 110.000. Namun, suasana di pasar kripto bukannya optimis, melainkan dibayangi "Red September," fenomena musiman yang kerap melanda pasar saham dan kripto. Fenomena ini, yang dirangkum dari decrypt.co dan kabartifa.id, telah menjadi momok selama hampir seabad. Indeks S&P 500, misalnya, mencatat rata-rata return negatif setiap September sejak 1928. Bitcoin bahkan lebih buruk, dengan rata-rata penurunan 3,77% setiap September sejak 2013, dan delapan kali mengalami crash menurut data CoinGlass.

    Yuri Berg dari FinchTrade, penyedia likuiditas kripto asal Swiss, menyebutnya sebagai "eksperimen psikologi pasar." Ekspektasi kolektif akan penurunan, bukan data fundamental, yang seringkali menjadi pemicu penurunan harga.

    Benarkah "Red September" Akan Menghantam Bitcoin?
    Gambar Istimewa : cryptoharian.com

    Lalu, apa penyebab "kutukan September"? Jika S&P 500 turun, institusi sering menjual Bitcoin untuk menutup margin atau mengurangi risiko. Pasar derivatif kripto memperparah situasi ini lewat likuiditas berantai. Sinyal teknis pun semakin mengkhawatirkan; bursa prediksi Myriad memperkirakan peluang BTC jatuh ke US$ 105.000 sebesar 75%.

    Namun, Daniel Keller dari InFlux Technologies melihat tahun 2025 berbeda. Kondisi saat ini, menurutnya, menciptakan "badai sempurna" bagi koreksi Bitcoin. Ia menambahkan bahwa pasar tak lagi memandang BTC sebagai safe haven seperti sebelum pandemi COVID-19.

    Pandangan berbeda datang dari Ben Kurland, CEO DYOR. Ia menganggap "Red September" lebih sebagai mitos daripada realitas matematis. Menurutnya, kelemahan September di masa lalu disebabkan oleh pasar kripto yang kecil dan didominasi investor ritel. Kini, dengan hadirnya ETF dan institusi, likuiditas jauh lebih besar. Dua tahun terakhir pun menunjukkan kenaikan harga BTC di bulan September, dengan rata-rata penurunan yang turun dari 6% menjadi hanya 2,55%.

    Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan nasihat investasi atau saran trading. Investasi kripto berisiko tinggi. Lakukan riset sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleRaih Keuntungan di Pasar Kripto 2025: 3 Sektor Terpanas!
    Next Article XRP Tembus Angkasa? Prediksi Mengejutkan Hingga 2030!
    Tifa Anggraini
    Tifa Anggraini
    • Website

    Redaksi Utama KabarTifa.ID, yang menjadi sumber bagi laporan-laporan up-to-date seputar dunia teknologi. Peran sentralnya mencakup pengawasan editorial dan penulisan artikel-artikel Teknologi, AI (Kecerdasan Buatan), dan Gadget terbaru, memastikan pembaca mendapatkan Daily Tech News Update yang akurat dan trending.

    Related Posts

    Crypto

    XRP Terancam? $50 Miliar Nyangkut, Harga Sulit Bangkit!

    10-03-2026 - 19.00
    Crypto

    10-03-2026 - 13.15
    Crypto

    10-03-2026 - 13.00
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Disklaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    • Tentang Kami
    • Indexs Post
    • Privacy Policy
    © 2026 ThemeSphere. Designed by kabartifa.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.