Editor: BobonSyah
KabarTifa- Jakarta – Sebuah laporan mengejutkan mengungkap kerugian masif senilai US$4,3 miliar yang dialami jutaan investor ritel akibat anjloknya nilai dua token meme populer, TRUMP dan MELANIA. Ironisnya, di tengah kehancuran ini, sekelompok kecil investor awal justru meraup keuntungan fantastis, memicu dugaan kuat adanya manipulasi pasar terstruktur.

Data terbaru menunjukkan lebih dari 2 juta pemegang aset kripto ini kini ‘terjebak’ dalam posisi merugi. Token TRUMP (TRUMP/USDT) dilaporkan anjlok drastis hingga 92%, merosot dari rekor tertingginya US$75 menjadi hanya US$3,55. Sementara itu, token MELANIA mengalami nasib lebih tragis, terjun bebas 99% dari puncaknya US$13,05 ke level US$0,11. Penurunan harga yang memilukan ini terekam pada Senin, 23 Februari 2026, meskipun pasar kripto secara umum juga mengalami koreksi besar.
Keuntungan Miliaran di Balik Kerugian Jutaan
Di sisi lain, kontras mencolok terlihat pada 45 dompet awal yang terlibat dalam fase peluncuran. Mereka berhasil membukukan keuntungan gabungan sekitar US$1,2 miliar, menciptakan jurang pemisah yang menganga lebar antara ‘orang dalam’ dan investor publik. Analis menilai, penurunan tajam kedua token ini lebih dipengaruhi oleh desain struktural dan strategi likuiditas internal, ketimbang hanya faktor pasar umum.
Tim Research Tokocrypto secara tegas menyebut kasus ini sebagai "pengingat keras tentang asimetri informasi di pasar meme coin." Mereka menyoroti rasio kerugian ritel versus keuntungan ‘insider’ yang mencapai 20:1, sebuah indikasi kuat bahwa investor publik hanya dijadikan ‘exit liquidity’ atau sarana pencairan dana bagi pihak-pihak tertentu.
Modus Operandi: Strategi Likuiditas Satu Sisi
Investigasi on-chain yang dilakukan BeInCrypto menyoroti pola aktivitas sistematis dari dompet anonim yang diduga kuat terafiliasi dengan pengembang awal proyek. Salah satu temuan signifikan adalah pergerakan US$94 juta dalam bentuk USDC dari alamat utama peluncuran token TRUMP ke bursa Coinbase pada Desember 2025.
Modus operandi yang disinyalir digunakan adalah strategi ‘single-sided liquidity provision’ pada platform desentralisasi Meteora. Dalam mekanisme ini, para ‘insider’ hanya menyetor token TRUMP dan MELANIA tanpa pasangan dolar. Ini secara otomatis memicu sistem automated market maker (AMM) untuk menjual token tersebut kepada pembeli ritel, mengonversinya menjadi USDC, dan mempercepat proses pencairan dari dompet awal ke pasar terbuka.
"Penggunaan strategi likuiditas satu sisi di AMM menunjukkan tingkat kecanggihan ‘insider’ dalam menguras modal ritel secara sistematis. Dengan jadwal unlock 2028, pemegang saat ini berada di posisi yang sangat rentan secara struktural," jelas tim riset tersebut.
Ancaman Dilusi Hingga 2028
Ancaman dilusi terhadap investor ritel belum berakhir. Data dari CryptoRank mengungkapkan sekitar US$2,7 miliar token yang dimiliki oleh ‘insider’ masih terkunci dalam smart contract hingga tahun 2028. Waktu pembukaan kunci yang bertepatan dengan akhir masa jabatan presiden ini memunculkan spekulasi kuat mengenai strategi ‘exit’ yang telah terencana. Jika token-token ini dilepas ke pasar, investor ritel yang masih bertahan berisiko menjadi korban likuiditas berikutnya, memperparah kerugian yang sudah ada.
Kasus TRUMP dan MELANIA ini menjadi pelajaran berharga sekaligus peringatan keras mengenai risiko investasi yang sangat tinggi pada token meme, terutama yang memiliki distribusi awal terpusat dan struktur tokenomics yang tidak transparan bagi khalayak umum.

