KabarTifa.ID – 23 Juli 2026 | Harga Hedera (HBAR) kembali menjadi sorotan tajam menyusul diskusi hangat mengenai potensi rilis token dalam jumlah besar pada kuartal ketiga tahun 2026. Dalam laporan terbaru, diperkirakan sekitar 4,07 miliar HBAR akan dilepaskan. Angka ini segera memicu spekulasi di kalangan investor, namun, para analis kripto justru mengklarifikasi bahwa istilah “rilis” tidak serta-merta berarti lonjakan suplai yang siap dijual di pasar. Situasi ini menempatkan HBAR Hadapi Ujian Besar, Analis Bantah Narasi Token Release Picu Reli 700%.
Menurut tim Research Tokocrypto, mayoritas dari total 4,07 miliar HBAR yang dijadwalkan rilis, yaitu sekitar 3,88 miliar HBAR, terkait erat dengan program pengembangan ekosistem, yang sebagian besar dialokasikan untuk Hedera Foundation. Dengan nilai estimasi mencapai US$268 juta, rilis ini memang menjadi salah satu agenda suplai terbesar yang patut dicermati oleh para pemegang HBAR.
Token Dirilis Bukan Berarti Langsung Dijual
Para analis menekankan pentingnya memahami definisi “rilis” dalam konteks Hedera. Istilah ini lebih merujuk pada perpindahan token dari akun yang dikelola oleh Hedera Council ke akun entitas lain, seperti Hedera Foundation. Setelah berpindah tangan, token tersebut masih memiliki potensi untuk disimpan dalam jangka waktu berbulan-bulan, bahkan beberapa kuartal, sebelum akhirnya didistribusikan atau diperdagangkan di pasar. Kesalahpahaman umum yang sering terjadi adalah menyamakan pelepasan token dengan tekanan jual langsung, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Lebih lanjut, Hedera sendiri tidak secara resmi mendefinisikan atau menggunakan istilah “circulating supply”. Hal ini berimpliksi pada perbedaan interpretasi data suplai yang ditampilkan oleh berbagai platform pelacak harga. Laporan dari Coinpedia menyebutkan bahwa jika pelepasan 4,07 miliar HBAR ini terealisasi, ini akan menjadi rilis kuartalan terbesar kedua dalam sejarah Hedera, hanya kalah dari kuartal pertama 2023. Namun, rekam jejak sebelumnya menunjukkan bahwa proyeksi rilis seringkali berbeda dengan pergerakan token yang sebenarnya.
Sebagai contoh, pada kuartal kedua tahun lalu, Hedera memproyeksikan rilis sekitar 4 miliar HBAR, namun jumlah yang benar-benar berpindah hanya sekitar 186 juta HBAR. Tren serupa terlihat pada kuartal sebelumnya, di mana proyeksi mencapai 3,72 miliar HBAR, sementara pergerakan aktual hanya sekitar 383 juta HBAR. Analis mengemukakan dua kemungkinan dari pola ini: pertama, Hedera Foundation mungkin sengaja memperlambat distribusi untuk memitigasi tekanan jual jangka pendek; kedua, kolom proyeksi dalam laporan mungkin bukanlah indikator yang sepenuhnya akurat.
Treasury Hedera Hampir Tersalurkan, Namun Keberlanjutan Jaringan Jadi Pertanyaan
Jika proyeksi rilis terbaru ini benar-benar terjadi, maka sekitar 47,5 miliar dari total 50 miliar HBAR yang telah di-pre-mined akan terdistribusi. Ini berarti hanya menyisakan sekitar 2,4 miliar HBAR, atau kurang dari 5%, yang belum dirilis. Meskipun demikian, jadwal distribusi awal Hedera dirancang untuk berlangsung hingga sekitar tahun 2033. Keterbatasan publikasi proyeksi hanya untuk satu kuartal ke depan juga menyulitkan pemetaan pola distribusi jangka panjang secara komprehensif.
Para analis juga secara tegas membantah narasi yang mengklaim bahwa rilis token sebelumnya telah memicu reli HBAR sebesar 700%. Memang benar, harga HBAR sempat mengalami kenaikan signifikan dari kisaran US$0,05 ke US$0,39 antara September hingga Desember 2024. Namun, pelepasan 3,97 miliar HBAR yang sering dikaitkan dengan lonjakan harga tersebut justru terjadi setelah periode reli, yaitu pada kuartal pertama 2025. Ironisnya, setelah rilis tersebut, harga HBAR justru mengalami penurunan drastis sekitar 83% ke level US$0,0612. Dengan demikian, klaim bahwa pelepasan token menjadi pemicu langsung reli besar HBAR dinilai tidak sesuai dengan kronologi data yang terjadi. Sekali lagi, HBAR Hadapi Ujian Besar dalam pembuktian narasi.
Revenue Jaringan Menjadi Fokus Utama di Tengah Isu Suplai
Di luar perdebatan mengenai suplai token, pertanyaan krusial yang dihadapi Hedera adalah kemampuannya untuk membiayai operasionalnya sendiri melalui pendapatan dari biaya transaksi jaringan. Saat ini, pendapatan harian dari biaya jaringan Hedera diperkirakan berada di kisaran US$1.354, atau sekitar US$1,5 juta per tahun. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar HBAR yang mencapai sekitar US$3 miliar.
Menariknya, biaya jaringan Hedera tidak dibakar, melainkan didistribusikan kembali untuk imbalan staking (staking rewards), imbalan node (node rewards), dan kas jaringan (treasury). Untuk meningkatkan keberlanjutan jangka panjang, Hedera sempat menaikkan salah satu biaya transaksi utama dari 0,1 menjadi 0,8 pada bulan Januari.
Meskipun demikian, para analis tetap membuka peluang skenario bullish bagi HBAR. Argumennya adalah token yang dirilis tidak selalu berarti langsung dijual, dan pendapatan dari biaya jaringan berpotensi tumbuh jika aktivitas di dalam ekosistem Hedera meningkat secara signifikan. Namun, inti persoalan tetap sama: setelah bertahun-tahun mengandalkan kas untuk mendukung operasional dan pengembangan ekosistem, Hedera dituntut untuk membuktikan bahwa aktivitas jaringannya mampu menghasilkan pendapatan yang memadai demi menopang keberlanjutan jangka panjang. Prospek HBAR untuk saat ini sangat bergantung pada dua faktor utama: bagaimana distribusi token pada kuartal ketiga 2026 benar-benar dieksekusi, dan apakah penggunaan jaringan mampu tumbuh cukup pesat untuk mengimbangi kekhawatiran seputar suplai. Isu ini kembali menegaskan bahwa HBAR Hadapi Ujian Besar, Analis Bantah Narasi Token Release Picu Reli 700%, dan fokus kini beralih pada fundamental keberlanjutan jaringan.

