KabarTifa.ID – 23 Agustus 2026 | Co-founder BitMEX, Arthur Hayes, kembali menyuarakan pandangan bullish terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pernyataan ini muncul setelah pasar global mengalami kenaikan tajam, yang menurut Hayes, sebagian besar dipicu oleh langkah Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Dalam sebuah wawancara, Hayes menegaskan bahwa investor yang saat ini menghindari saham, emas, dan Bitcoin justru mengambil risiko yang lebih besar. Komentar Arthur Hayes sebut Bitcoin masih menarik saat Treasury buyback picu reli ini menjadi sorotan utama di kalangan pelaku pasar aset digital.
Tim Riset Tokocrypto mengamati bahwa komentar Hayes bertepatan dengan pengumuman peningkatan signifikan dari US Treasury terkait buyback obligasi tenor panjang. Kebijakan ini dilaporkan akan menggandakan ukuran buyback, dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Langkah ini dinilai efektif menekan yield obligasi Treasury, memperbaiki likuiditas di pasar obligasi, dan pada akhirnya memicu reli pada aset-aset seperti Bitcoin, emas, dan saham.
Treasury Buyback Sebagai Katalis Pasar
Katalis utama yang disorot oleh Arthur Hayes adalah keputusan US Treasury untuk meningkatkan frekuensi dan nilai pembelian kembali surat utang berjangka panjang. Fokus buyback ini adalah pada obligasi dengan jatuh tempo 10 hingga 30 tahun, segmen pasar yang sebelumnya mengalami tekanan yield paling besar. Menurut laporan Wall Street Journal, keputusan ini diambil setelah pasar obligasi global menunjukkan tekanan yang meningkat dan yield jangka panjang bergerak naik signifikan.
Langkah Treasury ini menargetkan obligasi nominal dengan tenor 10 tahun ke atas. Dampaknya langsung terasa, dengan yield obligasi 10 tahun dilaporkan turun dari 4,682% menjadi 4,651% tak lama setelah berita tersebut tersiar. Penurunan yield obligasi ini merupakan sinyal penting bagi pasar. Ketika imbal hasil aset aman seperti obligasi menurun, investor secara alami akan mencari aset lain yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi. Kondisi ini secara historis sangat mendukung pergerakan positif pada saham, emas, dan tentu saja, Bitcoin.
MarketWatch bahkan secara spesifik menyebutkan bahwa pengumuman buyback Treasury pada 19 Agustus menjadi katalis utama bagi kenaikan harga Bitcoin. Sementara itu, emas juga turut mendapatkan dorongan dari pelemahan nilai dolar AS yang seringkali berkorelasi terbalik dengan harga logam mulia.
Hayes: Kebijakan Ini Mirip ‘Soft Yield Curve Control’
Arthur Hayes menggambarkan langkah US Treasury ini sebagai bentuk soft yield curve control. Konsep ini merujuk pada upaya otoritas moneter untuk menahan kenaikan yield tanpa secara eksplisit menetapkan target yield tertentu. Hayes berpendapat bahwa ketika pemerintah berusaha menekan yield obligasi, modal swasta akan secara otomatis mencari alternatif investasi yang lebih langka atau memiliki suplai terbatas. Dalam konteks ini, saham, emas, dan Bitcoin menjadi aset yang paling diuntungkan.
Ia menilai kebijakan seperti ini memiliki pola yang mirip dengan intervensi pemerintah dan bank sentral sebelumnya, di mana mereka menjaga stabilitas pasar utang melalui suntikan likuiditas. Hayes berargumen bahwa jika otoritas terus menciptakan likuiditas untuk menekan yield, investor akan cenderung beralih ke aset yang tidak mudah diperbanyak produksinya. Penjelasan ini menjadi dasar mengapa ia tetap bullish terhadap Bitcoin dan emas, yang kerap dianggap sebagai aset pelindung nilai ketika pasar mengkhawatirkan pelemahan nilai uang fiat dan potensi intervensi kebijakan yang tidak terduga.
Bitcoin Tembus US$70.000, Emas dan Saham Ikut Menguat
Reaksi pasar terhadap pengumuman Treasury buyback sungguh cepat. Bitcoin sempat melonjak menembus level psikologis US$70.000 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua bulan. Reli Bitcoin bahkan berlanjut mendekati US$80.000. Laporan Wall Street Journal mencatat bahwa kenaikan ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor, termasuk pengumuman buyback obligasi oleh Treasury Secretary Scott Bessent, dorongan regulasi kripto yang lebih ramah dari Presiden Donald Trump, serta aliran dana masuk (inflow) yang masif ke ETF spot Bitcoin.
Hayes sendiri mengakui bahwa sebagian kenaikan Bitcoin dipicu oleh short squeeze. Namun, ia menekankan bahwa faktor yang lebih besar adalah perubahan struktural dalam kebijakan likuiditas global. Menurut pandangannya, pasar kini membaca sinyal bahwa otoritas moneter akan terus melakukan intervensi untuk menjaga keberlanjutan utang negara dan menahan laju kenaikan yield. Jika tren ini berlanjut, aset berisiko dan aset langka seperti Bitcoin dan emas berpotensi terus mendapatkan dukungan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Emas dan saham juga ikut menunjukkan penguatan signifikan setelah yield obligasi turun. World Gold Council melaporkan bahwa yield, dolar AS, dan emas bereaksi positif terhadap pengumuman Treasury buyback. Emas, yang secara tradisional mendapat dorongan ketika dolar melemah dan yield riil turun, mengalami peningkatan permintaan karena biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih rendah. Saham pun turut diuntungkan dari yield yang lebih rendah, membuat valuasi aset berisiko menjadi lebih menarik. Inilah yang mendasari argumen Arthur Hayes sebut Bitcoin masih menarik saat Treasury buyback picu reli, mendorong investor untuk tidak terlalu defensif.
Bukan Tanpa Risiko
Meskipun Arthur Hayes menyuarakan optimisme, penting untuk dicatat bahwa pasar aset berisiko tetap memiliki potensi risiko yang signifikan. Laporan The Guardian menunjukkan bahwa yield obligasi 30 tahun sempat kembali naik setelah penurunan awal, mengindikasikan bahwa efek dari buyback mungkin tidak permanen. US Treasury sendiri menyatakan bahwa tujuan utama buyback adalah untuk memperbaiki likuiditas pasar obligasi jangka panjang, bukan sebagai stimulus moneter seperti quantitative easing (QE).
Ada kekhawatiran bahwa pasar mungkin terlalu cepat membaca buyback ini sebagai sinyal likuiditas permanen. Jika yield kembali merangkak naik atau jika The Fed mempertahankan sikap hawkish-nya, reli aset berisiko bisa saja melemah. Selain itu, kenaikan harga Bitcoin yang sangat agresif setelah menembus US$70.000 juga meningkatkan risiko aksi ambil untung (profit-taking), terutama jika posisi leverage di pasar derivatif mulai menumpuk.
Oleh karena itu, pandangan Arthur Hayes sebut Bitcoin masih menarik saat Treasury buyback picu reli sebaiknya dilihat sebagai salah satu narasi pasar yang valid, namun bukan jaminan mutlak bahwa Bitcoin, emas, atau saham akan terus naik tanpa koreksi. Arah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan Treasury AS dalam menjaga tekanan pada yield, sikap kebijakan moneter The Fed, serta keberlanjutan aliran dana masuk ke Bitcoin dan aset berisiko lainnya.

