KabarTifa- Pasar kripto dilanda guncangan hebat pekan ini. Kekhawatiran inflasi, yang dipicu kebijakan tarif impor era Donald Trump, menjadi biang keladinya. Melansir finbold.com, Bitcoin (BTC), yang sebelumnya kokoh di atas US$ 80.000, kini ambruk ke level terendah sejak Trump terpilih kembali. Aliran dana keluar dari Bitcoin spot ETF semakin memperparah situasi, dengan likuidasi mencapai hampir US$ 1 miliar dalam 24 jam terakhir. Volatilitas tinggi membuat investor semakin waspada.
Lalu, bagaimana nasib XRP di tengah badai ini? Para trader kini mengamati Relative Strength Index (RSI), indikator teknis yang mengukur momentum pasar. RSI di bawah 50 menunjukkan melemahnya kekuatan beli, sementara di bawah 30 mengindikasikan kondisi oversold—seringkali menjadi sinyal beli sebelum harga berbalik naik.

Analisis CoinGlass pada 28 Februari menunjukkan Bitcoin dan XRP memberi sinyal pemulihan jangka pendek. Bitcoin, dengan RSI 12 jam di 31,93 dan RSI 24 jam di 24,65, berada di zona oversold. Secara historis, ini menandakan pelemahan tekanan jual, membuka peluang pemulihan harga. Meskipun dalam 12 jam terakhir BTC turun 12,93 persen, beberapa trader melihatnya sebagai kesempatan akumulasi sebelum harga naik kembali.
XRP juga menunjukkan potensi pembalikan. RSI 12 jam di 35,08 dan RSI 24 jam di 32,35 mendekati level oversold. Meski diperdagangkan di US$ 2,19 dan berada di bawah tekanan jual, peningkatan minat beli berpotensi memicu pemulihan jangka pendek.
Namun, perlu diingat, RSI bukanlah satu-satunya penentu pembalikan harga. Investasi kripto sangat berisiko dan volatil. Selalu lakukan riset sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
