KabarTifa- Aktivitas "whale" atau paus kripto di jaringan Ethereum akhir-akhir ini menjadi sorotan. Data on-chain dari Lookonchain menunjukkan perpindahan aset yang signifikan. Sebuah dompet baru berhasil menarik 17.591 ETH (sekitar Rp 260 miliar) dari bursa Kraken hanya dalam dua jam! Fenomena ini bukan kasus tunggal. Dalam tiga hari, dua dompet baru menarik total 71.025 ETH (sekitar Rp 1 triliun) dari bursa. Salah satunya, alamat 0x2A92, bahkan menarik 53.434 ETH (sekitar Rp 800 miliar) dalam dua hari, termasuk pembelian besar-besaran saat harga turun.
Namun, cerita ini tak melulu soal akumulasi. Beberapa whale justru melakukan aksi pelepasan aset. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa harga Ethereum masih belum mencapai ATH (All-Time High) meskipun aktivitas jaringan meningkat signifikan?

Data dari CryptoQuant menunjukkan lonjakan aktivitas jaringan Ethereum sejak 9 Agustus. Transfer token Ethereum meningkat drastis dari 1-3 juta ETH pada akhir Juli menjadi 4,6 juta ETH, mendekati puncak bulanan 5,2 juta ETH di pertengahan Juli. Lonjakan ini beriringan dengan kenaikan harga dari US$ 3.400 ke US$ 4.600. Staking juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai level tertinggi dalam sebulan pada 14 Agustus. Meningkatnya aktivitas staking mengurangi pasokan ETH yang tersedia di pasar.
Saat ini, ETH diperdagangkan di harga US$ 4.647 dengan volume harian US$ 68,25 miliar. Meskipun mengalami penurunan 2 persen dalam 24 jam terakhir, ETH masih mencatat kenaikan 19 persen dalam sepekan. Pertanyaannya tetap sama: apa yang menghambat Ethereum untuk mencapai ATH? Apakah aksi jual whale, faktor pasar kripto secara keseluruhan, atau hal lain yang belum terungkap?
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan sebagai saran investasi atau trading. Investasi kripto berisiko tinggi. Lakukan riset sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
