KabarTifa- Ripple (XRP) kembali menjadi sorotan setelah menembus angka US$ 3,50 untuk pertama kalinya sejak 2018, sebuah pencapaian signifikan di tengah tren bullish altcoin di kuartal ketiga. Namun, euforia tersebut tak berlangsung lama. Data dari ambcrypto.com yang dikutip kabartifa.id menunjukkan lonjakan realized gains mencapai US$ 1,6 miliar—angka tertinggi dalam enam bulan terakhir—sebelum koreksi tajam sebesar 11 persen terjadi. XRP bahkan dua kali gagal mempertahankan level psikologis US$ 3,00.
Penurunan drastis ini, ironisnya, justru menjadi katalis bagi kenaikan berikutnya. Lonjakan 22 persen dari titik terendah US$ 2,70 memicu short squeeze, memukul balik para penjual yang terlambat. Tren serupa terulang minggu ini; penurunan 5,96 persen dari US$ 3,35 disusul rebound 8,6 persen, membentuk higher low—indikasi kuat membaiknya sentimen beli.

Investor besar (whales) juga turut berperan. Data on-chain menunjukkan akumulasi 120 juta XRP selama periode penurunan, menambah tekanan bullish. Lebih menarik lagi, rasio XRP/ETH melesat 6 persen dalam 48 jam, berbanding terbalik dengan penurunan Ethereum yang mencapai level terendah multi-tahun di US$ 1.440. Jika tren ini berlanjut, XRP berpotensi mengulang reli awal tahun lalu yang mencapai 85 persen terhadap ETH.
Meskipun investor institusional menunjukkan minat, partisipasi investor ritel masih terbatas. Pada Minggu (17/8/2025), harga XRP tercatat di US$ 3,10, naik 0,3 persen dalam 24 jam terakhir (data Coingecko).
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi atau ajakan trading. Investasi kripto berisiko tinggi dan volatil. Lakukan riset menyeluruh sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang Anda alami.
