KabarTifa- Selama ini, banyak yang meyakini bahwa siklus pasar Bitcoin ditentukan oleh halving, pemotongan imbalan blok setiap empat tahun. Namun, analis James Check memiliki pandangan berbeda. Menurut Check, seperti dikutip dari cointelegraph.com (27/8/2025), tiga siklus pasar Bitcoin sebelumnya tak sepenuhnya bergantung pada halving. Ia berpendapat, adopsi dan perubahan struktur pasarlah yang menjadi pendorong utama. Check membagi sejarah Bitcoin menjadi tiga fase utama, namun detailnya tidak dijelaskan dalam artikel ini.
Check menekankan kesalahan pembacaan sinyal pasar pasca bearish 2022, karena terpaku pada pola lama yang kini dianggapnya sebagai noise. Pandangan ini menantang teori siklus 4 tahun yang populer, di mana harga Bitcoin biasanya memuncak setahun setelah halving (2013, 2017, 2021, dan potensial 2025). Keraguan terhadap pola ini pun mulai mengemuka di kalangan analis.

Glassnode, firma riset on-chain, menyatakan Bitcoin masih mengikuti pola siklus tradisional, namun tekanan jual yang meningkat mengindikasikan fase akhir siklus saat ini. Bob Loukas, trader posisi, menawarkan perspektif yang lebih pragmatis. Menurutnya, siklus Bitcoin selalu ada, hanya intensitas dan kecepatan pemulihannya yang berbeda.
Disclaimer: Semua konten di kabartifa.id bersifat informatif. Artikel ini bukan nasihat investasi atau saran trading. Investasi kripto berisiko tinggi dan volatil. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
