Ancaman Lama Kembali Mengintai Bitcoin: Katalis yang Tekan Bitcoin pada 10 Oktober Muncul Lagi, Apa yang Terjadi?
KabarTifa.ID – 17 Agustus 2026 | Pasar cryptocurrency kembali dihadapkan pada bayang-bayang sentimen negatif yang pernah menghantamnya pada 10 Oktober 2025. Isu lama yang berkaitan dengan potensi pengeluaran perusahaan Strategy dari berbagai indeks saham global kembali mengemuka, memicu kekhawatiran akan terulangnya tekanan pasar yang signifikan. MSCI, penyedia indeks saham global terkemuka, kembali mengkaji aturan yang dapat berdampak besar pada Strategy, perusahaan yang dikenal memiliki cadangan Bitcoin terbesar di dunia.
Isu Lama, Dampak Baru?
Pada 10 Oktober 2025, MSCI memang sempat mengumumkan perpanjangan konsultasi terkait perlakuan terhadap perusahaan yang bisnis utamanya berpusat pada pengelolaan aset digital (digital asset treasury). Hal ini termasuk perusahaan yang menggunakan pendanaan untuk mengakumulasi aset digital seperti Bitcoin. Tim Riset Tokocrypto menilai isu ini sangat sensitif mengingat Strategy, di bawah kepemimpinan Michael Saylor, telah membangun seluruh strategi bisnisnya di sekitar akumulasi Bitcoin. Jika saham Strategy dikeluarkan dari indeks utama, dana pasif yang melacak indeks tersebut berpotensi besar terpaksa melakukan penjualan saham Strategy, yang dapat memicu efek domino negatif.
Crash 10 Oktober 2025: Sebuah Referensi Pasar yang Menakutkan
Peristiwa pada 10 Oktober 2025 bukan sekadar penurunan biasa dalam sejarah pasar kripto. Laporan dari MarketWatch mencatat lebih dari US$19 miliar posisi kripto dilikuidasi pada hari Jumat tersebut, menjadikannya salah satu likuidasi harian terbesar dalam industri aset digital. Pada saat itu, Bitcoin mengalami penurunan tajam dari kisaran US$120.000 ke sekitar US$105.000. Tekanan pasar saat itu diperparah oleh tingginya leverage dan kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi global, termasuk ketegangan perdagangan. Menariknya, pada hari yang sama, MSCI juga merilis konsultasi terkait perusahaan dengan kepemilikan aset digital besar. Rencana awal tersebut secara spesifik menyoroti perusahaan yang memiliki 50% atau lebih asetnya dalam bentuk kripto, yang secara langsung menempatkan Strategy sebagai salah satu nama utama yang menjadi sorotan. Meskipun crash pada 10 Oktober tidak sepenuhnya disebabkan oleh pengumuman MSCI, munculnya isu indeks pada waktu yang bersamaan memperkuat kekhawatiran pasar terhadap posisi Strategy dan dampaknya terhadap sentimen Bitcoin.
Kini, katalis yang tekan Bitcoin pada 10 Oktober kembali muncul. Proposal yang sempat membuat pasar bergejolak kini dihidupkan kembali oleh MSCI, mengancam Strategy untuk dikeluarkan dari berbagai indeks saham global utama. Pengalaman sebelumnya menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu ini, dengan Bitcoin yang sempat anjlok sekitar US$18.000 dalam satu hari.
Aturan Baru MSCI: Potensi Tekanan Berkelanjutan pada Strategy
Setelah proposal yang lebih spesifik terhadap aset kripto mendapatkan respons pasar, MSCI kini memperluas pendekatannya. Kajian terbaru difokuskan pada perusahaan yang lebih menyerupai pemegang aset ketimbang entitas bisnis operasional biasa. Pendekatan baru ini membuat isu tersebut tidak lagi terlihat hanya menargetkan perusahaan kripto secara langsung. Kategori seperti “Perusahaan Non-Operasional” dapat mencakup perusahaan yang sebagian besar nilainya berasal dari kepemilikan aset, bukan dari aktivitas bisnis operasional. Dengan demikian, Strategy tetap berada dalam sorotan karena porsi nilai perusahaan yang signifikan berasal dari kepemilikan Bitcoin. Jika Strategy gagal memenuhi kriteria baru MSCI, sahamnya berisiko dikeluarkan dari indeks utama.
MSCI sebelumnya juga telah mempublikasikan daftar perusahaan digital asset treasury yang berpotensi terdampak sebagai bagian dari konsultasi indeksnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan seperti Strategy memang menjadi bagian integral dari evaluasi MSCI.
Risiko Forced Selling Menjadi Kekhawatiran Utama
Risiko terbesar dari potensi penghapusan Strategy dari indeks adalah fenomena forced selling. Jika saham Strategy dikeluarkan dari indeks yang diikuti oleh dana pasif, manajer investasi yang melacak indeks tersebut kemungkinan besar harus menjual saham Strategy. Estimasi dari JPMorgan yang dilaporkan oleh Barron’s menunjukkan bahwa Strategy dapat menghadapi tekanan jual sekitar US$2,8 miliar jika dikeluarkan dari indeks MSCI seperti MSCI USA dan MSCI World. Angka ini bisa melonjak hingga US$8,8 miliar jika penyedia indeks lain mengikuti langkah MSCI. Reuters juga melaporkan estimasi serupa, bahwa potensi outflow bisa mencapai US$8,8 miliar jika Strategy dikeluarkan dari indeks besar lainnya, termasuk Nasdaq 100, CRSP US Total Market Index, dan indeks Russell. Meskipun angka-angka ini tidak serta-merta berarti seluruh tekanan jual akan terjadi, pasar tetap mencermatinya karena penjualan besar-besaran saham Strategy dapat menekan kemampuan perusahaan untuk mengakses pasar modal.
Dampak yang Bisa Merambat ke Bitcoin
Strategy selama ini dikenal sebagai pembeli Bitcoin korporasi terbesar. Model bisnisnya sangat bergantung pada kemampuannya menggalang dana melalui penerbitan saham, utang, atau instrumen keuangan lainnya untuk menambah porsi kepemilikan BTC. Jika saham Strategy mengalami tekanan jual yang masif akibat potensi penghapusan indeks, kemampuan perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau memperoleh pendanaan baru dapat melemah. Kondisi ini secara langsung dapat mengurangi ruang gerak Strategy untuk terus mengakumulasi Bitcoin.
Dampak langsung terhadap harga BTC mungkin tidak serta-merta terjadi melalui penjualan Bitcoin oleh Strategy. Risiko yang lebih besar adalah hilangnya salah satu sumber permintaan institusional yang selama ini dianggap menopang narasi treasury Bitcoin korporasi. Oleh karena itu, investor tidak hanya memantau apakah Strategy akan menjual Bitcoinnya, tetapi juga apakah tekanan indeks dapat mengubah persepsi pasar terhadap model digital asset treasury secara keseluruhan. Sekali lagi, katalis yang tekan Bitcoin pada 10 Oktober kembali muncul, membawa serta potensi dampak yang lebih luas.
Proposal Baru: Lebih Sulit Dikatakan Anti-Bitcoin
Salah satu perbedaan krusial dari pendekatan terbaru MSCI adalah cakupannya yang lebih luas. Proposal baru tidak hanya berfokus pada perusahaan pemegang kripto, tetapi juga dapat mencakup perusahaan yang sebagian besar nilainya berasal dari aset non-operasional lainnya. Dengan cakupan yang lebih luas, MSCI dapat berargumen bahwa aturan tersebut berkaitan dengan klasifikasi indeks, bukan sebagai serangan terhadap Bitcoin. Namun, mengingat Strategy adalah nama terbesar dalam kategori treasury Bitcoin, dampak pasarnya tetap sangat terasa di sektor kripto. Bagi pasar, isu utamanya bukan sekadar keadilan aturan tersebut, melainkan apakah perubahan indeks dapat memicu aliran jual pasif dalam jumlah besar dan melemahkan struktur permintaan terhadap saham Strategy.
Menanti Keputusan MSCI
Untuk saat ini, risiko yang ditimbulkan oleh MSCI kembali menjadi salah satu katalis yang tekan Bitcoin pada 10 Oktober yang terus dipantau investor. Jika Strategy tetap dipertahankan dalam indeks utama, tekanan sentimen dapat mereda dan pasar mungkin menganggap risiko forced selling sebagai berlebihan. Namun, jika Strategy benar-benar dikeluarkan, tekanan terhadap sahamnya dapat meningkat. Dampaknya bisa menjalar ke Bitcoin melalui pelemahan sentimen, penurunan minat terhadap perusahaan treasury BTC, dan berkurangnya ekspektasi pembelian Bitcoin lanjutan oleh Strategy.
Bitcoin sendiri saat ini masih diperdagangkan jauh di bawah puncaknya pada Oktober 2025. Kondisi ini membuat pasar lebih sensitif terhadap katalis negatif, terutama yang berkaitan dengan likuiditas institusional dan arus dana pasif. Keputusan MSCI dan respons penyedia indeks lain akan menjadi kunci pergerakan pasar selanjutnya. Jika hanya MSCI yang bergerak, dampaknya mungkin terbatas. Namun, jika aturan serupa diikuti oleh indeks besar lainnya, tekanan terhadap Strategy dan sentimen Bitcoin dapat meningkat lebih jauh.

