KabarTifa- Pasar kripto kembali dihantam badai. Pada 24 Agustus lalu, Bitcoin (BTC) mengalami penurunan drastis hingga US$ 4.000 dalam hitungan menit, sebuah peristiwa yang disebut flash crash. Menurut Jacob King, CEO WhaleWire, seorang whale (investor besar) menjual lebih dari 24.000 BTC, senilai lebih dari US$ 2 miliar, memicu likuidasi besar-besaran senilai US$ 310 juta dan menghapus US$ 130 miliar dari kapitalisasi pasar kripto. King menjelaskan bahwa whale tersebut menukar BTC ke Ethereum, bahkan beberapa koin yang dijual telah tertidur selama lebih dari 5 tahun. Informasi ini dikutip dari kabartifa.id.
Efek domino pun terjadi. Penjualan masif melalui DEX seperti Hyperliquid (HYPE) memicu lonjakan tajam harga Ethereum. Sekitar 275.500 ETH (US$ 1,3 miliar) langsung di-stake, sementara 135.263 ETH (US$ 620 juta) digunakan untuk membuka posisi long dengan leverage. ETH sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.953, memicu spekulasi tentang dominasi ETH sebagai aset kripto penghasil yield. Namun, euforia tersebut singkat. Volatilitas tetap tinggi, dan harga ETH turun 3,89 persen sejak kejadian tersebut, diperdagangkan di kisaran US$ 4.594.

Dampaknya sangat luas. Lebih dari 147.500 trader mengalami likuidasi dalam 24 jam setelah flash crash, dengan total kerugian mencapai US$ 717 juta. Kejadian ini terjadi beberapa hari setelah pasar sempat menguat karena komentar Ketua The Fed, Jerome Powell, tentang potensi pemangkasan suku bunga pada September dan bulan-bulan berikutnya.
Berdasarkan data Coingecko pada Selasa (26/8/2025) pagi, harga Bitcoin berada di US$ 109.782, mencerminkan penurunan 2,9% dalam 24 jam terakhir.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan nasihat investasi. Investasi kripto berisiko tinggi. Lakukan riset sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
