KabarTifa- Setelah sempat mencetak rekor tertinggi di US$123.091 pada 14 Juli lalu, Bitcoin (BTC) terlihat sedikit kehilangan momentum. Dalam dua minggu terakhir, pergerakan harga BTC cenderung mendatar di atas level support US$116.400, mengindikasikan fase konsolidasi yang cukup kuat. Namun, di balik pergerakan harga yang stagnan ini, tersembunyi sebuah cerita menarik: institusi dan investor besar terus mengakumulasi Bitcoin, sementara investor ritel justru cenderung menjual.
Salah satu indikasi menarik adalah adanya transaksi besar senilai sekitar US$2,7 miliar dalam bentuk Bitcoin yang masuk ke bursa Binance. Sumber dari ambcrypto.com menyebutkan bahwa sebagian besar dana ini berasal dari penambang era Satoshi, akun yang sudah lama tidak aktif namun kini kembali memindahkan BTC ke bursa. Hal ini memicu spekulasi mengenai adanya fase distribusi dan pengambilan keuntungan di balik layar, yang mungkin menjadi salah satu faktor penyebab stagnannya harga Bitcoin setelah mencapai rekor tertinggi.

Menurut analisis Burak Kesmeci dari CryptoQuant, data on-chain menunjukkan bahwa investor ritel telah melakukan penjualan sejak awal tahun 2023. Sebaliknya, institusi dan entitas besar justru secara agresif mengakumulasi Bitcoin selama tahun 2024 dan 2025. Pendorong utama dari tren ini adalah masuknya modal melalui spot Bitcoin ETF, investasi dari institusi, dan aksi beli dari korporasi. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin masih sangat kuat di kalangan pemain besar.
Meskipun harga Bitcoin telah mencapai rekor tertinggi, minat publik secara umum, yang tercermin dari data Google Trends untuk kata kunci "Bitcoin," masih relatif sepi. Ini mengindikasikan bahwa belum ada euforia massal yang biasanya menjadi ciri khas puncak dari sebuah bull run.
Selain itu, Skor Akumulasi Trend, yang mengukur apakah dompet besar sedang menambah atau mengurangi kepemilikan BTC, saat ini berada di angka 0.95 atau lebih tinggi sejak 15 Juli. Semakin mendekati angka 1, semakin kuat sinyal akumulasi dari para pemain besar.
Seorang analis dan trader bernama Trader Mayne melalui platform X menyatakan bahwa saat ini sedang ada tren perusahaan menambahkan kripto ke neraca keuangan mereka. "Narasi treasury ini baru saja dimulai, dan kemungkinan akan semakin menjadi-jadi. Tapi saya rasa ini juga bisa jadi hal yang akhirnya mengakhiri bull run," ungkap Mayne.
Mayne bahkan menyindir bahwa puncak euforia mungkin akan terjadi saat perusahaan besar seperti S&P 500 atau Nasdaq mulai menambahkan aset kripto yang kurang berkualitas ke portofolio mereka, sebagai sindiran terhadap keserakahan pasar yang bisa menjadi sinyal akhir siklus.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi atau trading. Investasi dalam mata uang kripto memiliki risiko tinggi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul.
