Editor: BobonSyah
KabarTifa- Dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi) kembali diguncang oleh insiden keamanan serius. Token AAVE, salah satu aset kripto terkemuka di sektor ini, mencatat penurunan harga signifikan lebih dari 10% menyusul laporan dugaan eksploitasi besar-besaran yang menimpa KelpDAO. Peristiwa ini diperkirakan telah mengakibatkan kerugian fantastis, mencapai sekitar $292 juta, atau setara dengan kurang lebih Rp4,7 triliun, melalui modus operandi minting dan borrowing yang rumit.

Investigasi awal mengindikasikan bahwa para pelaku kejahatan siber berhasil mencetak (mint) token rsETH dalam volume yang sangat besar, diperkirakan antara $280 juta hingga $300 juta. rsETH yang baru dicetak ini lantas dimanfaatkan sebagai jaminan di protokol Aave V3 untuk meminjam sejumlah besar aset Ethereum (ETH) dan Wrapped Ethereum (WETH). Untuk menghilangkan jejak digital dan mempersulit pelacakan, dana hasil eksploitasi tersebut kemudian dialirkan melalui layanan mixer kripto, Tornado Cash.
Menanggapi insiden ini, KelpDAO segera mengambil tindakan darurat dengan menghentikan sementara (pause) kontrak rsETH di berbagai jaringan mainnet dan layer-2. Melalui pernyataan resminya pada 18 April 2026, KelpDAO mengumumkan sedang berkoordinasi erat dengan berbagai pihak, termasuk LayerZero, Unichain, para auditor, serta pakar keamanan siber terkemuka, guna menelusuri akar masalah (Root Cause Analysis/RCA) dan mencari solusi.
Data on-chain yang dihimpun oleh Coingape menunjukkan bahwa sekitar 116.500 rsETH berhasil ditarik oleh para eksploiter, dengan nilai total mendekati $292 juta. Imbas dari peristiwa ini sangat serius, berpotensi menimbulkan bad debt atau utang macet hingga $177 juta dalam protokol Aave V3. Pihak Aave sendiri telah memberikan klarifikasi, menegaskan bahwa protokol mereka tidak mengalami peretasan secara langsung. Namun, mereka mengakui terdampak signifikan akibat eksploitasi yang terjadi pada aset rsETH. Sebagai langkah mitigasi, Aave telah membekukan pasar yang terkait dengan rsETH dan berjanji akan mencari solusi komprehensif apabila terjadi kerugian sistemik yang lebih luas.
Reaksi pasar terhadap insiden ini sangatlah cepat dan brutal. Harga token AAVE merosot tajam sekitar 10%, mencapai kisaran $105, yang jelas mencerminkan gelombang aksi jual masif akibat kepanikan di kalangan investor. Tak hanya AAVE, Ethereum (ETH) sebagai aset kripto terbesar kedua juga turut merasakan tekanan, dengan penurunan sekitar 3% dalam kurun waktu yang sama.
Kasus eksploitasi ini menambah panjang daftar insiden keamanan yang terus membayangi sektor DeFi. Peristiwa ini kembali menyoroti berbagai risiko fundamental, mulai dari kerentanan smart contract, kompleksitas integrasi lintas protokol, hingga tantangan dalam pengelolaan jaminan aset. Tim Riset Tokocrypto, dalam analisisnya, menekankan bahwa insiden ini sekali lagi menegaskan risiko inheren yang melekat dalam ekosistem DeFi, terutama terkait dengan interkoneksi antar protokol dan pemanfaatan aset turunan seperti liquid restaking token.
"Potensi bad debt yang muncul menjadi faktor krusial yang dapat mengikis kepercayaan pasar terhadap protokol pinjam-meminjam (lending) di DeFi," ujar perwakilan Tim Riset Tokocrypto. "Oleh karena itu, transparansi operasional, manajemen risiko yang solid, serta audit keamanan yang ketat dan berkelanjutan merupakan elemen fundamental yang tak terpisahkan untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekosistem DeFi di masa mendatang."
Untuk informasi dan analisis terkini seputar dunia kripto, kunjungi kabartifa.id.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli. kabartifa.id tidak berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.


