KabarTifa.ID – 17 Agustus 2026 | Pendiri Binance, Changpeng Zhao atau yang akrab disapa CZ, kembali memicu diskusi hangat di pasar aset kripto global dengan pernyataannya yang menyoroti kelangkaan Bitcoin. Ia secara gamblang menyebut bahwa CZ Sebut Miliarder pun Bisa Sulit Punya 1 Bitcoin, bahkan bagi individu dengan kekayaan melimpah, seiring dengan terus menyusutnya suplai Bitcoin yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan. Analisis mendalam dari tim Research Tokocrypto menguraikan bahwa komentar CZ ini berakar pada sifat inheren Bitcoin yang memiliki suplai maksimum terbatas, yakni hanya 21 juta koin.
Hingga Agustus 2026, diperkirakan lebih dari 20,07 juta Bitcoin telah berhasil ditambang. Angka ini menyisakan sekitar 4,4% dari total suplai yang belum tercipta. Namun, CZ berargumen bahwa jumlah Bitcoin yang benar-benar dapat diperdagangkan di pasar mungkin jauh lebih kecil dari angka tersebut. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan sebagian besar Bitcoin yang sudah ada telah hilang, terkunci dalam dompet digital yang tidak dapat diakses lagi karena kehilangan kunci privat (private key).
Kelangkaan Bitcoin dalam Sorotan CZ
Dalam sebuah unggahan di platform X, CZ menekankan bahwa suplai Bitcoin bersifat tetap dan tidak elastis. Berbeda dengan mata uang fiat yang dapat dicetak oleh bank sentral sesuai kebutuhan, jumlah Bitcoin tidak akan pernah melebihi 21 juta koin. Faktor inilah yang menjadi landasan utama narasi kelangkaan Bitcoin. Semakin banyak Bitcoin yang ditambang, semakin kecil pula jumlah Bitcoin baru yang akan masuk ke dalam sirkulasi pasar.
Lebih lanjut, CZ memperkirakan bahwa sekitar 10% hingga 20% dari total Bitcoin yang sudah ada kemungkinan besar telah hilang atau tidak dapat diakses lagi. Meskipun estimasi ini tidak dapat dipastikan secara akurat, isu Bitcoin yang hilang karena kehilangan akses ke kunci privatnya sering menjadi topik perbincangan karena secara efektif mengeluarkan koin tersebut dari suplai aktif.
Pernyataan CZ yang mengindikasikan bahwa “Segera, para jutawan tidak akan mampu membeli 1 Bitcoin penuh” semakin memperkuat pandangan ini. Jika estimasi mengenai Bitcoin yang hilang tersebut mendekati kenyataan, maka jumlah Bitcoin yang benar-benar tersedia untuk dibeli dan dipindahkan akan jauh lebih rendah dari 21 juta. Kondisi ini secara logis akan meningkatkan persaingan untuk memiliki satu Bitcoin penuh dalam jangka panjang.
Jutawan Melimpah, Bitcoin Terbatas
Diskusi mengenai kelangkaan Bitcoin semakin memanas ketika seorang trader bernama Quinten Francois menyebutkan bahwa Amerika Serikat saja memiliki sekitar 23,6 juta jutawan. Angka ini secara signifikan lebih besar dari total suplai maksimum Bitcoin yang hanya 21 juta koin. Hal ini mengindikasikan bahwa bahkan jika seluruh Bitcoin yang ada dapat dibagikan secara merata, jumlahnya tetap tidak akan mencukupi untuk setiap jutawan di AS memiliki satu Bitcoin utuh.
Situasi ini menjadi semakin ketat jika kita memperhitungkan Bitcoin yang telah hilang, yang disimpan untuk jangka panjang oleh para investor (HODLer), atau yang dimiliki oleh institusi besar. CZ sendiri menanggapi hal ini dengan menegaskan bahwa para jutawan bisa saja suatu hari nanti benar-benar kesulitan untuk membeli satu Bitcoin penuh. Pernyataan ini kembali memperkuat narasi bahwa Bitcoin adalah aset yang langka dengan suplai yang sangat terbatas.
Narasi Bitcoin Menuju US$1 Juta Kembali Hidup
Komentar terbaru CZ mengenai kelangkaan Bitcoin ini juga secara tidak langsung menghidupkan kembali diskusi mengenai potensi Bitcoin untuk mencapai harga US$1 juta per koin. Sebelumnya, pada bulan Juli, CZ pernah menyebutkan skenario Bitcoin menuju US$1 juta pada siklus pasar sekitar tahun 2033 sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Pernyataan ini bukanlah prediksi pasti, melainkan sebuah skenario jangka panjang yang didasarkan pada asumsi pertumbuhan adopsi Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.
Narasi serupa juga pernah disampaikan oleh tokoh-tokoh terkemuka lainnya, termasuk Cathie Wood dari Ark Invest dan miliarder Meksiko, Ricardo Salinas Pliego. Argumen utama di balik proyeksi ambisius ini adalah kombinasi dari suplai Bitcoin yang terbatas, peristiwa halving yang mengurangi imbalan penambangan, peningkatan minat dari investor institusional, dan potensi pelemahan daya beli mata uang fiat di masa depan. Jika permintaan terus meningkat sementara suplai baru semakin kecil, tekanan terhadap harga dapat menguat secara signifikan.
Kelangkaan Saja Tidak Cukup Tanpa Permintaan
Meskipun kelangkaan memang menjadi salah satu daya tarik utama Bitcoin, faktor ini tidak dapat berdiri sendiri dalam menentukan pergerakan harga. Agar harga Bitcoin dapat naik secara berkelanjutan, pasar tetap membutuhkan permintaan nyata dari berbagai kalangan, termasuk investor ritel, institusi, perusahaan, bahkan negara. Jika kondisi makroekonomi memburuk, likuiditas pasar menurun, atau regulasi menjadi lebih ketat, permintaan Bitcoin bisa saja melemah meskipun suplai tetap terbatas. Dalam situasi seperti itu, harga Bitcoin tetap berpotensi untuk mengalami penurunan.
Sebaliknya, jika adopsi terus bertambah dan semakin banyak investor jangka panjang yang memilih untuk menyimpan Bitcoin mereka (HODLing), suplai yang tersedia di pasar dapat semakin menipis. Kondisi ini dapat memperkuat tekanan beli ketika permintaan meningkat. Oleh karena itu, investor perlu membaca narasi kelangkaan Bitcoin secara seimbang. Bitcoin memang memiliki suplai yang terbatas, tetapi harga aset ini pada akhirnya akan ditentukan oleh interaksi dinamis antara kelangkaan dan permintaan pasar.
Investor Tetap Perlu Hati-Hati
Pernyataan CZ memberikan dorongan baru bagi narasi bullish Bitcoin. Dengan suplai maksimum 21 juta BTC dan potensi banyaknya koin yang hilang, kepemilikan satu Bitcoin penuh memang dapat menjadi semakin langka. Namun, investor tetap perlu melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Pasar aset kripto sangat sensitif terhadap berbagai faktor, termasuk perubahan suku bunga, inflasi, ketegangan geopolitik, arus dana dari ETF Bitcoin spot, dan sentimen risiko global.
Selain itu, estimasi mengenai jumlah Bitcoin yang hilang tidak dapat dihitung secara pasti. Tidak semua dompet digital yang tidak aktif berarti koinnya hilang selamanya; sebagian bisa saja dimiliki oleh investor jangka panjang yang memilih untuk tidak melakukan transaksi. Secara keseluruhan, pernyataan CZ memperkuat pandangan bahwa Bitcoin adalah aset dengan suplai yang sangat terbatas. Jika adopsi terus meningkat, persaingan untuk memiliki satu BTC penuh bisa menjadi semakin tinggi. Namun, kelangkaan saja bukanlah jaminan bahwa harga akan terus naik tanpa hambatan. Dalam jangka panjang, arah pergerakan harga Bitcoin akan tetap bergantung pada kombinasi antara suplai terbatas, permintaan pasar yang nyata, kondisi makroekonomi global, dan keyakinan pasar terhadap peran Bitcoin sebagai aset digital langka yang terdesentralisasi.
Sebagai catatan tambahan, dalam beberapa waktu terakhir, harga CoW Protocol (COW) sempat mencatat kenaikan tajam, yang sebagian didorong oleh integrasi dengan sistem automated buyback NEST milik Lido Finance menggunakan CoW Swap untuk eksekusi. Hal ini menunjukkan bahwa utilitas dan adopsi protokol DeFi lainnya juga dapat memengaruhi dinamika pasar, meskipun narasi utama tetap berpusat pada aset-aset fundamental seperti Bitcoin.

