KabarTifa- Tahun 2017, Polkadot muncul sebagai proyek blockchain paling ambisius, dijuluki "Ethereum Killer". Mengumpulkan dana investasi lebih dari US$ 500 juta, Polkadot menjanjikan revolusi Web3 lewat sistem parachain dan interoperabilitas skala besar. Namun, hampir delapan tahun kemudian, DOT diperdagangkan di bawah US$ 5, anjlok lebih dari 90% dari puncaknya. Pengguna harian hanya ribuan, pengembang kabur, dan ekosistemnya nyaris mati. Apa yang salah?
Seorang trader kripto di X, Nonzee, memaparkan beberapa penyebabnya:

-
Arsitektur Rumit dan UX Buruk: Polkadot memiliki dua jaringan, Polkadot dan Kusama, dengan token dan fungsi berbeda. Alih-alih menjadi keunggulan, ini justru membingungkan pengguna dan pengembang. "Tak ada yang benar-benar paham bedanya. UX-nya membingungkan, dan itu mematikan minat awal," ungkap Nonzee.
-
Model Lelang Parachain yang Gagal: Lelang parachain, yang inovatif di awal, menuntut penguncian DOT selama dua tahun. Ini mengakibatkan likuiditas terkunci, proyek kehilangan momentum, dan prosesnya menjadi kompleks serta mahal.
-
Minim Penggunaan Nyata: Meskipun puluhan parachain diluncurkan sejak 2021, pengguna aktif harian anjlok drastis. Pada 2025, gabungan semua chain di bawah Polkadot hanya memiliki sekitar 5.000 pengguna aktif – angka yang sangat kecil untuk proyek sekelasnya.
-
Eksodus Pengembang: Jumlah pengembang aktif bulanan Polkadot turun drastis, dari 2.400 pada 2022 menjadi hampir separuhnya di 2024.
-
Tata Kelola yang Gagal: Sistem tata kelola on-chain Polkadot, yang ambisius, terhambat oleh beberapa faktor. Di antaranya, pengambilalihan oleh whale, penggunaan US$ 129 juta dana treasury tanpa transparansi ROI, dan merosotnya partisipasi voting.
-
Teknologi Maju, Tapi Terlambat: Polkadot 2.0 (2024) menghadirkan inovasi seperti JAM Protocol dan async backing. Namun, semua itu datang terlambat. "Teknologinya makin canggih, tapi tak ada yang peduli lagi," ujar Nonzee.
-
Harga dan Narasi yang Mati: Nonzee menyimpulkan, "Polkadot membangun sasis super untuk Web3, tapi tidak ada yang mengendarainya."
Kesimpulannya, proyek yang pernah menjanjikan revolusi Web3 ini kini menghadapi kenyataan pahit. Kegagalan dalam desain, eksekusi, dan adaptasi pasar telah menyebabkan penurunan drastis minat dan pengguna. Kisah Polkadot menjadi pengingat penting akan risiko investasi di dunia kripto yang sangat fluktuatif.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan nasihat investasi atau saran trading. Investasi kripto berisiko tinggi. Lakukan riset sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
