KabarTifa- Sebuah laporan mengejutkan dari Humanity Research Consultancy (HRC) pada 16 Mei lalu mengungkap keterlibatan pejabat tinggi pemerintah Kamboja dalam jaringan penipuan kripto transnasional senilai US$19 miliar per tahun. Angka tersebut setara dengan hampir 60% Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Laporan berjudul "Policies and Patterns of State-Abetted Transnational Crime in Cambodia as a Global Security Threat" yang dilansir kabartifa.id, mengungkap bagaimana elite politik Kamboja diduga memfasilitasi dan mengambil keuntungan dari operasi penipuan masif yang melibatkan kripto dan tenaga kerja paksa.
HRC mengidentifikasi Huione Group sebagai dalang utama, memanfaatkan berbagai platform untuk memindahkan dana ilegal dalam skala miliaran dolar. Salah satu platform kunci adalah Huione Guarantee (kini berganti nama menjadi Haowang), platform escrow berbasis Telegram yang telah memproses lebih dari US$24 miliar sejak 2020, menurut data yang diperoleh. Platform ini diduga digunakan untuk pencucian uang dari berbagai skema penipuan, termasuk "pig butchering" dan penipuan investasi kripto. Lebih mengejutkan lagi, Huione bahkan meluncurkan stablecoin sendiri untuk menghindari pengawasan perbankan global.

Laporan tersebut juga menyinggung keterlibatan keluarga Perdana Menteri Kamboja, Hun To, yang tercatat duduk di dewan Huione Group. Wakil Perdana Menteri Sar Sokha juga disebut sebagai co-investor dalam salah satu kompleks penipuan terbesar di negara tersebut. Haowang, dengan jaringan blockchain sendiri (Xone Chain), bursa, stablecoin, dan bahkan kartu Visa bermerek, semakin memperkuat dugaan keterlibatan pejabat tinggi dalam jaringan ini.
UNODC mencatat bahwa pusat-pusat penipuan besar ini beroperasi dengan tenaga kerja paksa di Kamboja, Laos, dan Myanmar, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan blockchain untuk menjalankan operasi phishing dan penipuan investasi secara besar-besaran. HRC memprediksi Kamboja akan menjadi pusat global penipuan transnasional generasi berikutnya pada tahun 2025, dengan operasi yang meluas ke daerah terpencil dan ekspansi ke Afrika Selatan dan Amerika Latin.
Kejadian ini semakin memprihatinkan mengingat kerugian pasar kripto akibat penipuan mencapai lebih dari US$1,63 miliar dalam tiga bulan pertama tahun 2025, menurut Immunefi. Skandal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dan tata kelola pemerintahan di Kamboja, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan regional.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan sebagai saran investasi atau ajakan trading. Investasi kripto berisiko tinggi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan pembaca.
