** KabarTifa- Pasar keuangan Amerika Serikat mengalami guncangan hebat pada Jumat (1/8/2025) setelah laporan data tenaga kerja menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi. Namun, bukan hanya data yang mengecewakan, melainkan reaksi Presiden Donald Trump yang justru memperkeruh suasana.
Menurut laporan dari akun pengamat pasar "Real World Asset Watchlist" di media sosial, Trump bertindak kontroversial dengan memecat pejabat yang bertanggung jawab atas rilis data tersebut. Tak hanya itu, ia juga secara terbuka menyatakan bahwa data yang telah dipublikasikan adalah palsu.

Tindakan presiden ini menuai kritik dari berbagai pihak. Pasalnya, data tersebut sebenarnya bisa menjadi senjata ampuh bagi Trump untuk menekan The Fed agar menurunkan suku bunga, sebuah tujuan yang telah lama ia suarakan.
Laporan data tenaga kerja AS untuk bulan Juli memang jauh dari harapan, dengan rincian sebagai berikut: tingkat pengangguran naik menjadi 4,0%, penambahan pekerjaan non-pertanian hanya 50.000, dan pertumbuhan upah stagnan. Alih-alih memanfaatkan momentum ini, Trump justru memecat Komisaris BLS (Bureau of Labor Statistics) dan menuduh angka-angka tersebut sengaja dibuat untuk merugikan Partai Republik.
Pengamat pasar menilai, The Fed hanya akan menurunkan suku bunga jika inflasi konsisten di angka 2% atau jika pasar tenaga kerja melemah secara signifikan. Laporan data tenaga kerja yang buruk ini seharusnya memberikan argumen kuat untuk pemotongan suku bunga.
Namun, Trump justru menuding bahwa angka-angka tersebut "direkayasa" untuk membantu kandidat Demokrat, Kamala Harris. Analis menilai logika ini tidak masuk akal. "Jika angka itu benar-benar dibuat untuk merugikan Partai Republik, mengapa datanya justru membantu Trump menekan The Fed agar memotong suku bunga?" ujar seorang analis.
Selain itu, Trump juga menyerang Ketua The Fed, Jerome Powell, dengan menyebutnya terlalu lambat dan menyarankan agar ia segera pensiun. Tindakan ini semakin mempersulit posisinya, karena ia justru menyerang orang yang seharusnya ia bujuk untuk memangkas suku bunga.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keabsahan data yang dirilis oleh Pemerintah Amerika di masa mendatang. Pasar kini tidak hanya berusaha membaca data ekonomi, tetapi juga mengantisipasi tekanan politik terhadap data itu sendiri.
Jerome Powell kini berada dalam situasi yang sangat sulit. Data ekonomi menunjukkan bahwa ia harus melakukan pemangkasan suku bunga. Namun, ia juga menghadapi serangan langsung dari Presiden dan tekanan dari pasar yang mengharapkan pemangkasan agresif. Terakhir, integritas data yang ia kelola juga dipertanyakan secara terbuka.
"Ini bukan situasi normal. Kita sedang memasuki wilayah kebijakan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya," pungkas Real World Asset Watchlist.
Disclaimer: Seluruh konten yang diterbitkan di website kabartifa.id ditujukan sebagai sarana informatif. Seluruh artikel yang telah tayang di kabartifa.id bukan nasihat investasi atau saran trading. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan anda.
