Editor: BobonSyah
KabarTifa- Harga Stellar (XLM) kembali menjadi sorotan setelah terjun bebas di bawah level US$0,20, mengikis habis pemulihan yang sempat dinikmati sepanjang tahun sebelumnya. Namun, di balik koreksi harga yang tajam ini, sejumlah indikator fundamental on-chain justru memancarkan sinyal sebaliknya: aktivitas ekosistem Stellar menunjukkan peningkatan yang signifikan, mengindikasikan bahwa kepercayaan investor terhadap fondasi jaringan Stellar belum luntur.

Data terbaru yang dihimpun kabartifa.id mengisyaratkan adanya divergensi menarik antara pergerakan harga di pasar dan geliat di dalam jaringan itu sendiri.
XLM Terkunci di DeFi Stellar Tembus Rekor Baru
Menurut data dari DefiLlama, jumlah XLM yang terkunci dalam protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) di jaringan Stellar telah menembus rekor tertinggi baru pada awal Februari 2026, melampaui angka 900 juta XLM. Kenaikan ini terjadi justru di tengah tekanan harga XLM yang terus bertahan di bawah level support utama tahunan US$0,20.
Meskipun Total Value Locked (TVL) Stellar dalam denominasi dolar AS saat ini berada di kisaran US$163 juta, lonjakan jumlah XLM yang terkunci ini diinterpretasikan sebagai cerminan kuatnya kepercayaan komunitas dan investor jangka panjang terhadap potensi adopsi Stellar. Dua pilar utama yang mendorong arus modal ini adalah Blend, sebuah protokol likuiditas inovatif yang memfasilitasi penciptaan pasar pinjaman fleksibel, serta Aquarius Stellar, protokol AMM (Automated Market Maker) dan lapisan manajemen likuiditas vital di jaringan Stellar. Kedua protokol ini disebut menyumbang hampir 70% dari total TVL.
Pengguna Aktif Stabil: Resiliensi di Tengah Badai Harga
Selain itu, data dari Artemis menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif mingguan dalam ekosistem Stellar konsisten bertahan di angka sekitar 60.000 pengguna selama beberapa pekan terakhir. Stabilnya aktivitas pengguna ini terjadi meskipun harga XLM mengalami penurunan tajam. Fenomena ini menunjukkan resiliensi partisipasi pengguna yang tak tergoyahkan.
Dalam catatan historis, kondisi serupa juga sempat terjadi pada akhir 2024, di mana XLM jatuh di bawah US$0,10 sebelum kemudian melonjak hingga US$0,60. Pada periode tersebut, aktivitas pengguna tetap stabil bahkan menunjukkan tren peningkatan. Namun, lambatnya pertumbuhan pengguna baru saat ini disinyalir menjadi salah satu ganjalan utama bagi pemulihan harga XLM.
Derivatif Menurun, Sinyal Volatilitas Mereda?
Dari sisi pasar derivatif, data Coinglass memperlihatkan bahwa open interest Stellar telah turun ke level terendah sejak November 2024. Penurunan ini mengindikasikan berkurangnya eksposur leverage di kalangan trader.
Situasi ini seringkali menjadi pertanda bahwa volatilitas tinggi mulai mereda, membuka peluang bagi XLM untuk memasuki fase pergerakan sideways atau konsolidasi. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut dapat membuka potensi terbentuknya zona akumulasi baru bagi investor. Meski demikian, analis menilai penentuan titik dasar harga dan waktu pemulihan masih sulit diprediksi di tengah tekanan pasar yang berlangsung.
RWA dan Stablecoin: Lokomotif Pertumbuhan XLM di 2026
Sementara itu, potensi pertumbuhan Stellar pada tahun 2026 diperkirakan akan didorong oleh tren aset dunia nyata (Real-World Assets/RWA) dan adopsi stablecoin. Sebuah laporan bulan lalu menyebut nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi di jaringan Stellar, tidak termasuk stablecoin, telah melampaui US$1 miliar pada awal tahun ini.
Platform analitik kripto Santiment juga melaporkan bahwa Stellar masuk dalam empat besar proyek RWA berdasarkan aktivitas pengembangan GitHub sejak awal tahun. Scopuly, penyedia dompet Stellar, menegaskan bahwa XLM bukan sekadar aset spekulatif, melainkan memiliki fungsi fundamental yang krusial dalam jaringan. "XLM diperlukan untuk transaksi, operasi akun, dan aktivitas jaringan. Seiring volume RWA meningkat, penggunaan XLM ikut bertumbuh secara fundamental," ujar Scopuly.
Di sisi lain, kapitalisasi pasar stablecoin di Stellar masih relatif kecil, berkisar US$200 juta. Namun, MoneyGram, raksasa layanan remitansi internasional, baru-baru ini kembali menegaskan stabilitas instrumen stablecoin berbasis dolar AS miliknya dan terus melanjutkan uji coba di jaringan Stellar.
Dengan perkembangan tersebut, permintaan terhadap tokenisasi RWA dan stablecoin diperkirakan dapat menjadi pendorong utama akumulasi XLM ke depan, terutama ketika harga sedang tertekan di area rendah saat ini. Menurut Tim Research Tokocrypto, divergensi bullish, di mana harga aset menurun namun fundamental on-chain (TVL) justru melonjak tajam, adalah sinyal akumulasi klasik. "Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor jangka panjang tetap aktif berinvestasi di ekosistem, mengabaikan gejolak volatilitas harga jangka pendek," jelasnya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

