KabarTifa- Pasar kripto kembali bergejolak setelah Chris Larsen, salah satu pendiri Ripple, dilaporkan menjual XRP senilai US$ 200 juta dalam kurun waktu 10 hari terakhir. Aksi jual besar-besaran ini memicu kekhawatiran di kalangan investor, terutama di tengah tren penurunan harga XRP.
Analis CryptoQuant, J.A. Maartunn, melalui platform X, menyindir investor yang masih membeli XRP di tengah tekanan jual ini. Ia menyebut mereka sebagai "exit liquidity" bagi Larsen. "Masih beli XRP? Anda hanya jadi exit liquidity. Dia (Larsen) lagi buang barang ke anda. Pikir dua kali," tulis Maartunn.

Menurut data Forbes, Larsen memiliki kekayaan US$ 10,8 miliar, sebagian besar berasal dari kepemilikan XRP sejak 2012. Sebagai co-founder Ripple, Larsen menerima 9,5 miliar XRP, bagian dari alokasi 20% total suplai untuk para pendiri. Saat ini, ia diperkirakan masih memiliki sekitar 2,8 miliar token XRP.
Penjualan besar ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga XRP. Pada hari Rabu, token ini mengalami penurunan harian terbesar sejak April, sempat turun di bawah US$ 3 sebelum pulih karena tekanan beli. Meskipun tidak dapat dikaitkan langsung, aksi jual oleh tokoh seperti Larsen dapat mempercepat tekanan jual dari investor lain, terutama ritel.
Istilah "exit liquidity" merujuk pada situasi di mana investor besar menjual aset ke pembeli ritel di harga tinggi, menjadikan ritel sebagai likuiditas keluar bagi whale yang ingin keluar dari pasar.
Meskipun XRP memiliki komunitas solid dan utilitas luas, aksi ini dapat merusak sentimen pasar dalam jangka pendek. Kurangnya transparansi dari para pendiri mengenai rencana penjualan mereka memperburuk situasi.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Investasi dalam mata uang kripto memiliki risiko tinggi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang Anda alami. Lakukan riset mendalam sebelum berinvestasi.
