KabarTifa- Ketegangan geopolitik kembali mengguncang pasar keuangan global. Ancaman perang dagang akibat rencana pengumuman tarif baru Presiden AS Donald Trump pada 2 April mendatang menekan pasar saham dan kripto, termasuk Bitcoin (BTC). Sejak pengumuman tarif pertama Trump pada Januari lalu, investor cenderung menghindari risiko. Dalam dua bulan terakhir, harga Bitcoin anjlok sekitar 18%, sementara indeks S&P 500 turun lebih dari 7% (data TradingView).
Tanggal 2 April menjadi titik krusial. Editor platform investasi digital Nexo, Stella Zlatareva, menyatakan investor cemas dengan potensi eskalasi perang dagang. Laporan Washington Post bahkan menyebut Trump mendorong penasihatnya untuk bersikap lebih agresif dalam menerapkan tarif, bertujuan mengurangi defisit perdagangan AS (US$ 1,2 triliun) dan meningkatkan produksi dalam negeri. Tarif baru diperkirakan akan menyasar beberapa mitra dagang utama AS.

Di tengah ketidakpastian ini, Bitcoin tertekan. Namun, fenomena menarik terjadi: "whale" Bitcoin (pemilik BTC dalam jumlah besar) justru terus mengakumulasi aset kripto tersebut. Data Glassnode menunjukkan peningkatan jumlah alamat wallet yang menyimpan 1.000-10.000 BTC dari 1.956 (1 Januari) menjadi lebih dari 1.990 (27 Maret).
Analis Nexo, Iliya Kalchev, menjelaskan melemahnya minat risiko akibat ketidakpastian makro dan ancaman tarif. Namun, akumulasi BTC oleh whale dan arus masuk ETF dalam 10 hari terakhir mengindikasikan permintaan institusional yang stabil. Meskipun sempat terjadi arus keluar US$ 93 juta dari ETF Bitcoin Fidelity pada 28 Maret, analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjang BTC, memproyeksikan harga akhir 2025 antara US$ 160.000 hingga di atas US$ 180.000.
Disclaimer: Semua konten di kabartifa.id bertujuan informatif. Artikel ini bukan nasihat investasi atau saran trading. Investasi kripto berisiko tinggi dan volatil. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.