Jakarta, KabarTifa- Aave Labs secara resmi menanggalkan merek payung Avara dan menghentikan operasional dompet Family. Keputusan ini menandai langkah strategis perusahaan untuk mengalihkan kembali fokus utamanya ke sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi), di tengah dinamika hubungan yang kian memanas antara Aave Labs dan Aave DAO terkait isu krusial mengenai kendali atas protokol Aave.
Sebelumnya, Avara berfungsi sebagai entitas induk yang menaungi berbagai proyek Web3 yang dikembangkan oleh Aave Labs, termasuk protokol media sosial terdesentralisasi Lens dan dompet kripto Family. Namun, Aave Labs kini menegaskan bahwa seluruh produk yang ada maupun yang akan datang – seperti Aave Mobile App, Aave Pro, dan Aave Kit – akan sepenuhnya beroperasi di bawah bendera Aave Labs.

"Perubahan ini bertujuan untuk menyederhanakan struktur merek kami dan memungkinkan kami untuk sepenuhnya berfokus pada pengembangan Aave serta memperkenalkan DeFi kepada jutaan pengguna di seluruh dunia," demikian pernyataan Avara melalui akun resmi mereka di platform X.
Kembali ke Akar DeFi
Langkah ini merupakan pergeseran arah yang signifikan bagi Aave Labs. Pada tahun 2023, melalui rebranding menjadi Avara, perusahaan sempat menunjukkan ambisi untuk berekspansi ke berbagai vertikal Web3 di luar DeFi. Kini, perhatian penuh kembali dipusatkan pada protokol pinjam-meminjam Aave, yang telah lama dikenal sebagai sistem kredit on-chain terbesar di jaringan Ethereum.
Keputusan ini juga tak lepas dari perdebatan panjang yang melibatkan Aave Labs sebagai pengembang awal dan Aave DAO, entitas yang dikelola oleh para pemegang token AAVE. Selama ini, DAO memegang kendali atas kontrak pintar, parameter risiko, dan pendapatan protokol, sementara Aave Labs mengelola aspek off-chain seperti antarmuka resmi aave.com, merek dagang, domain, dan produk yang langsung berinteraksi dengan pengguna.
Menurut laporan The Block, ketegangan semakin memuncak pada Desember lalu ketika Aave Labs mengintegrasikan CoW Swap ke situs resmi Aave dan mengalihkan biaya swap yang sebelumnya masuk ke kas DAO ke dompet pribadi milik Aave Labs. Insiden ini memicu perdebatan sengit mengenai siapa sebenarnya pemilik dan pengendali sejati Aave.
Upaya komunitas DAO untuk mengambil alih kekayaan intelektual dan aset Aave Labs melalui proposal yang dikenal sebagai "poison pill" gagal disahkan dalam voting tata kelola. Meskipun demikian, pendiri Aave, Stani Kulechov, kemudian menyatakan keterbukaannya untuk membagikan pendapatan non-protokol kepada pemegang token AAVE serta meninjau ulang isu kepemilikan IP dan merek.
Perjalanan Penting Aave dan Isu Kontroversial
Pada Januari lalu, Aave Labs juga mengumumkan penjualan protokol Lens dan rencana penghentian seluruh proyek terkait dompet Family. "Merek Avara tidak lagi dibutuhkan saat kami total membawa Aave ke masyarakat luas," tegas Kulechov di X.
Sebelumnya, Aave telah memperkenalkan versi terbaru aplikasi Aave yang menawarkan produk tabungan dengan imbal hasil hingga 9% serta perlindungan simpanan hingga US$1 juta. Aave juga menyatakan ambisi jangka panjang untuk mendorong aktivitas keuangan on-chain hingga skala triliunan dolar, menyusul berakhirnya investigasi regulator AS terhadap perusahaan tersebut.
Di sisi lain, laporan Bloomberg pada Selasa menyebut Kulechov membeli rumah mewah senilai £22 juta di kawasan Notting Hill, London. Berita ini memicu gelombang kritik dari sebagian komunitas kripto yang mempertanyakan prioritas dan alokasi sumber daya di tengah berbagai isu yang melanda Aave.
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Editor: BobonSyah


