KabarTifa- Serangan militer AS ke Iran membuat pasar keuangan global geger. Bitcoin, yang sebelumnya kokoh di atas $100.000, ikut terdampak dan ambles hingga menyentuh angka $98.900 pada Minggu malam. Kejadian ini bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari reaksi pasar terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ancaman eskalasi konflik membuat investor beralih ke aset yang lebih aman, meninggalkan aset berisiko seperti Bitcoin.
Serangan "Midnight Hammer" AS terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, melibatkan lebih dari 125 pesawat tempur, termasuk B-2 stealth bomber. Presiden Trump menyebutnya sebagai "penghancuran total" program nuklir Iran. Namun, sejauh ini belum ada konfirmasi pasti mengenai kerusakan yang ditimbulkan. Iran sendiri mengecam keras serangan tersebut dan mengancam akan membalas. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak, semakin memperburuk situasi.

Reaksi pasar terlihat jelas. Harga minyak melonjak tajam, Brent mencapai $81 per barel dan minyak mentah AS mencapai $76, tertinggi sejak Januari. Pasar saham global juga mengalami koreksi. Pernyataan Presiden Trump tentang potensi perubahan rezim di Iran dan ancaman serangan lebih lanjut semakin menambah kekhawatiran.
Di pasar kripto, dampaknya langsung terasa. Kabar serangan membuat Bitcoin langsung terkoreksi. Lebih dari $1 miliar posisi kripto dilikuidasi dalam sehari, mayoritas dari posisi long. Arus keluar dari produk ETF Bitcoin juga signifikan, menunjukkan investor institusi semakin waspada. Korelasi Bitcoin dengan Nasdaq meningkat, menunjukkan Bitcoin kini dilihat sebagai aset berisiko tinggi, bukan lagi sebagai safe haven.
Analis teknikal memprediksi potensi koreksi lebih lanjut hingga $93.000 jika konflik berlanjut. Namun, ada juga yang optimistis, melihat sejarah kripto yang kerap pulih cepat dari gejolak serupa. Arthur Hayes misalnya, menyebut kelemahan ini hanya sementara. Ia melihat potensi Bitcoin tetap tinggi di tengah inflasi dan kebijakan belanja pemerintah yang agresif.
Namun, realitanya, kripto masih sangat dipengaruhi sentimen global. Meningkatnya risiko geopolitik membuat investor enggan memegang aset volatil seperti Bitcoin. Koreksi Bitcoin di bawah $100.000 bukan hanya tekanan teknikal, tetapi juga cerminan reaksi pasar terhadap ketidakpastian geopolitik. Pergerakan harga Bitcoin yang semakin mirip aset teknologi menunjukkan pasar belum sepenuhnya melihatnya sebagai pelindung nilai saat krisis.
Kesimpulan: Situasi geopolitik yang tidak menentu membuat investor harus berhati-hati. Pantau perkembangan di Timur Tengah dan kelola risiko investasi dengan bijak. Ingat, investasi kripto berisiko tinggi. Artikel ini semata-mata untuk informasi, bukan rekomendasi investasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan investasi Anda.
