KabarTifa- Pasar kripto dikejutkan dengan analisis terbaru dari Bloomberg Intelligence yang menyebutkan bahwa performa emas berpotensi mengungguli Bitcoin (BTC) pada tahun ini. Penurunan volatilitas Bitcoin secara signifikan dibandingkan emas menjadi sorotan utama, menimbulkan kekhawatiran tentang prospek jangka menengah aset kripto nomor satu tersebut.
Volatilitas tahunan Bitcoin dalam periode 260 hari, hingga 1 Agustus, tercatat hanya 2,2 kali lebih tinggi dari emas. Angka ini merupakan level terendah sepanjang sejarah pencatatan data, jauh di bawah rata-rata yang biasanya berada di atas 3 kali, bahkan sempat menyentuh lebih dari 30 kali pada puncak popularitasnya antara tahun 2018 dan 2021.

Mike McGlone, Senior Strategist Bloomberg, menyatakan bahwa Bitcoin selama ini dikenal menawarkan volatilitas tinggi dengan imbal hasil yang sepadan. Namun, pola ini dinilai tidak lagi berkelanjutan. "Bitcoin terbiasa menawarkan volatilitas tinggi dengan imbal hasil setara emas. Pola ini tidak berkelanjutan," tegas McGlone.
Penyempitan risk premium antara Bitcoin dan emas dipandang sebagai sinyal negatif. Bitcoin, yang masih dianggap sebagai aset berisiko (risk-on asset), kini menghadapi tantangan karena emas tetap menjadi instrumen lindung nilai klasik (safe haven). Meskipun Bitcoin sempat mencetak rekor harga baru di atas US$73.000 pada tahun ini, rasio harga Bitcoin terhadap emas masih tertahan di bawah resistensi utama pada level 9.0, zona yang terakhir disentuh pada akhir 2021 dan awal 2022.
McGlone memperingatkan bahwa jika selera risiko pasar menurun pada paruh kedua tahun ini, posisi Bitcoin berpotensi terpukul lebih berat dibandingkan emas. Sementara itu, ia melihat peluang besar bagi emas untuk terus naik, terutama jika volatilitas pasar ekuitas (S&P 500) kembali ke rata-rata historisnya. Dalam skenario tersebut, emas sebagai aset defensif dapat terdorong menembus US$3.500, bahkan mendekati US$4.000, level yang sudah mulai diuji sejak pertengahan tahun.
Jika kondisi pasar cenderung datar hingga akhir 2025, McGlone memproyeksikan bahwa tahun ini dapat dianggap stabil di bawah pemerintahan Trump yang kedua, dengan satu pengecualian: lonjakan harga emas ke rekor tertinggi. Meskipun Bitcoin masih mencatatkan kinerja positif tahun ini, tren penurunan volatilitas dan berkurangnya daya tarik spekulatif dapat membuatnya tertahan secara relatif, terutama jika investor mulai beralih kembali ke aset yang lebih konservatif.
McGlone menekankan bahwa kesenjangan antara risiko dan imbal hasil pada Bitcoin mulai tidak seimbang. "Tanpa volatilitas yang kuat, sulit bagi Bitcoin untuk mempertahankan keunggulannya atas aset tradisional," pungkasnya.
Disclaimer: Artikel ini disediakan hanya untuk tujuan informasi. kabartifa.id tidak memberikan nasihat investasi atau saran trading. Investasi dalam mata uang kripto memiliki risiko tinggi. Lakukan riset mendalam sebelum membuat keputusan investasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul.
