Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Disklaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    • Tentang Kami
    • Indexs Post
    • Privacy Policy
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KabarTifa.IDKabarTifa.ID
    KabarTifa.IDKabarTifa.ID
    Home - Crypto - Kontrak Rp26 Triliun Gagal Dongkrak Saham SpaceX, Investor Malah Khawatir Hal Ini!
    Crypto

    Kontrak Rp26 Triliun Gagal Dongkrak Saham SpaceX, Investor Malah Khawatir Hal Ini!

    Tifa AnggrainiBy Tifa Anggraini31-07-2026 - 00.54Tidak ada komentar4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Kontrak Rp26 Triliun Gagal Dongkrak Saham SpaceX, Investor Malah Khawatir Hal Ini!
    Kontrak Rp26 Triliun Gagal Dongkrak Saham SpaceX, Investor Malah Khawatir Hal Ini!
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Saham SpaceX Terus Melemah di Tengah Euforia Kontrak Miliaran Dolar

    KabarTifa.ID – 31 Juli 2026 | Dalam sebuah paradoks pasar yang membingungkan, Saham SpaceX Turun Meski Raih Kontrak US$1,6 Miliar dari Space Force. Perusahaan antariksa milik Elon Musk ini kembali menyaksikan pelemahan sahamnya di bursa Nasdaq, meskipun baru saja mengamankan kesepakatan bernilai fantastis dengan Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (U.S. Space Force). Pada hari Rabu, 29 Juli, saham SpaceX tercatat turun 3,32% dan ditutup pada level US$112,55 per saham.

    Analisis dari Tim Research Tokocrypto mengemukakan bahwa penurunan ini terjadi pasca pengumuman Space Force yang memesan 18 unit peluncuran roket Falcon 9 hingga tahun 2027. Misi-misi krusial ini akan difokuskan pada peluncuran satelit pelacak rudal dan ancaman udara, sebuah langkah strategis Pentagon untuk memperkuat pertahanan nasionalnya di luar angkasa. Meskipun kontrak ini secara signifikan menambah prospek pendapatan SpaceX dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri peluncuran militer, pasar tampaknya belum memberikan respons positif. Faktanya, Saham SpaceX Turun Meski Raih Kontrak US$1,6 Miliar dari Space Force, mengindikasikan adanya sentimen pasar yang lebih kompleks.

    Saham SpaceX Masih Berada di Bawah Harga IPO dan Tren Penurunan

    Sejak debutnya di Nasdaq, saham SpaceX belum mampu kembali ke harga penawaran umum perdana (IPO). SpaceX sebelumnya menetapkan harga IPO di US$135 per saham. Setelah sempat melonjak ke rekor tertinggi US$225,64 pada pertengahan Juni, momentum kenaikan tersebut berbalik arah secara dramatis. Hingga kini, saham perusahaan telah mengalami penurunan sekitar 29% dalam sebulan terakhir dan masih diperdagangkan di bawah harga IPO. Puncak kekhawatiran investor terlihat pada Selasa, ketika saham SpaceX sempat menyentuh rekor terendah di US$107,01. Penurunan ini berlanjut pada hari Rabu, mengabaikan kabar baik mengenai kontrak besar dari Space Force.

    Investor Mengantisipasi Potensi Arus Pasokan Saham Baru

    Salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor adalah antisipasi potensi share unlock (pembukaan blokir saham) yang diperkirakan terjadi sekitar tanggal 6 Agustus. Peristiwa ini berpotensi menambah suplai saham SpaceX di pasar secara signifikan, yang pada gilirannya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga saham. Investor tengah bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan volume perdagangan yang bisa saja tidak diimbangi oleh permintaan yang kuat.

    Selain itu, laporan keuangan (earnings report) SpaceX yang dijadwalkan pada 4 Agustus mendatang juga menjadi sorotan utama. Pasar akan mencermati dengan seksama apakah pertumbuhan pendapatan dari kontrak-kontrak pemerintah, termasuk kesepakatan terbaru dengan Space Force, cukup kuat untuk mengimbangi tekanan valuasi yang ada dan kekhawatiran mengenai suplai saham pasca unlock. Jika laporan keuangan menunjukkan kinerja yang solid dan pertumbuhan yang berkelanjutan, sentimen investor mungkin akan membaik. Namun, sebaliknya, jika ada keraguan, penurunan harga bisa saja berlanjut.

    Kontrak Space Force Perkuat Dominasi SpaceX di Sektor Pertahanan

    Kontrak terbaru senilai US$1,6 miliar ini merupakan bagian dari program National Security Space Launch Phase 3 Lane 1 dari Space Force. Dalam program ini, SpaceX bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya seperti United Launch Alliance (ULA) dan Blue Origin untuk mendapatkan kontrak militer. Misi peluncuran Falcon 9 yang dipesan akan digunakan untuk membawa satelit-satelit canggih yang dirancang untuk mendeteksi dan melacak ancaman udara, sejalan dengan inisiatif Pentagon dalam pengembangan Space Based Sensing and Targeting.

    Kesepakatan ini menambah daftar panjang kerja sama strategis antara SpaceX dan Pentagon. Pada bulan Mei lalu, SpaceX juga telah memenangkan kontrak Space Force senilai US$6,5 miliar untuk pekerjaan satelit militer. Dengan kontrak terbaru ini, total nilai kontrak yang diamankan SpaceX dari Pentagon sepanjang tahun ini telah melampaui US$7 miliar. Sebagian besar dari pengeluaran ini terkait erat dengan program Golden Dome, sebuah sistem pertahanan rudal bernilai sekitar US$185 miliar.

    Di medan persaingan, SpaceX terus menunjukkan posisinya yang kuat. ULA saat ini masih menghadapi tinjauan teknis berbulan-bulan terkait masalah pemisahan booster pada roket Vulcan mereka. Sementara itu, Blue Origin masih dalam proses investigasi pasca ledakan launchpad yang membuat roket New Glenn tidak dapat beroperasi sejak bulan Mei. Masalah yang dihadapi para pesaing utama ini secara tidak langsung semakin memperbesar dominasi SpaceX dalam pasar peluncuran militer. Namun, situasi ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan sebagian anggota parlemen Amerika Serikat terkait potensi ketergantungan militer AS pada satu kontraktor utama.

    Sentimen Investor Menjadi Tantangan Utama Bagi Saham SpaceX

    Meskipun kontrak baru dari Space Force secara fundamental memperkuat prospek pendapatan jangka panjang SpaceX, pergerakan harga saham belakangan ini menunjukkan bahwa investor lebih memfokuskan perhatian pada tekanan pasar, valuasi perusahaan, dan potensi peningkatan pasokan saham. Fakta bahwa Saham SpaceX Turun Meski Raih Kontrak US$1,6 Miliar dari Space Force, menunjukkan bahwa belanja pertahanan yang besar saja belum cukup untuk menstabilkan harga saham SpaceX dalam jangka pendek. Pasar kini tengah menanti dua katalis penting: laporan keuangan pada 4 Agustus dan peristiwa share unlock di awal Agustus. Kinerja keuangan yang kuat bisa menjadi pendorong sentimen positif, namun jika unlock memicu kekhawatiran suplai baru, tekanan terhadap saham bisa berlanjut. Untuk saat ini, prospek saham SpaceX masih terlihat rapuh, meskipun perusahaan tetap memimpin industri peluncuran antariksa dan terus memenangkan kontrak besar dari pemerintah AS.

    Investasi Saham Teknologi Space Force SpaceX
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleBadai Altcoin Mengamuk: COTI Melonjak 51%, Harga Tembus US$0,0184 di Tengah Euforia Pasar
    Tifa Anggraini
    Tifa Anggraini
    • Website

    Redaksi Utama KabarTifa.ID, yang menjadi sumber bagi laporan-laporan up-to-date seputar dunia teknologi. Peran sentralnya mencakup pengawasan editorial dan penulisan artikel-artikel Teknologi, AI (Kecerdasan Buatan), dan Gadget terbaru, memastikan pembaca mendapatkan Daily Tech News Update yang akurat dan trending.

    Related Posts

    Crypto

    Badai Altcoin Mengamuk: COTI Melonjak 51%, Harga Tembus US$0,0184 di Tengah Euforia Pasar

    30-07-2026 - 21.24
    Crypto

    Bikin Rugi Miliaran Rupiah! Apple Digugat Usai Pengguna Kehilangan Kripto, Ini Cara Mengenali Wallet Kripto Palsu

    30-07-2026 - 12.00
    Crypto

    Prediksi Mengguncang Pasar Kripto 29 Juli 2026: Analisis Teknikal & Sinyal Perdagangan Hari Ini!

    30-07-2026 - 04.01
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Disklaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kontak
    • Tentang Kami
    • Indexs Post
    • Privacy Policy
    © 2026 ThemeSphere. Designed by kabartifa.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.