KabarTifa.ID – 13 Agustus 2026 |
Pasar aset kripto menunjukkan tanda-tanda pemulihan positif, dengan Ethereum (ETH) berhasil kembali menembus level psikologis US$1.900 pada penutupan perdagangan 12 Agustus 2026. Pergerakan ini didorong oleh dirilisnya data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang sesuai dengan ekspektasi pasar, memberikan angin segar bagi aset berisiko seperti mata uang kripto.
**Ethereum Rebound ke Atas US$1.900 Didukung Data Inflasi AS**
Harga Ethereum terpantau menguat sekitar 3% dari area US$1.850, mengukuhkan posisinya di atas US$1.900. Pada saat berita ini ditulis, ETH diperdagangkan di kisaran US$1.916, setelah bergerak dinamis antara US$1.880 hingga US$1.918 dalam rentang intraday. Rebound ini menandakan kembalinya minat para pembeli setelah ETH sempat menguji zona support krusial di US$1.850 pada hari sebelumnya. Tim Research Tokocrypto mengkonfirmasi bahwa data CPI AS Juli menunjukkan penurunan inflasi tahunan menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan Juni. Lebih lanjut, core CPI, yang tidak termasuk komponen makanan dan energi, juga melambat ke angka 2,5%. Angka-angka ini sejalan dengan prediksi pasar, sehingga membantu menjaga minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar kripto.
**Menembus US$1.900, Tantangan Baru di Depan Mata**
Kenaikan Ethereum kali ini berhasil melewati kembali level US$1.900, sebuah area yang dalam sepekan terakhir beberapa kali menjadi penghambat upaya pemulihan harga. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pembeli mulai menunjukkan aktivitas yang lebih kuat di area support penting. Namun, meskipun sentimen rebound terlihat positif, Ethereum belum sepenuhnya mengonfirmasi sebuah breakout yang solid. Harga masih perlu menunjukkan penutupan yang meyakinkan di atas zona resistance signifikan yang terletak di antara US$1.925 hingga US$1.950. Area ini menjadi krusial karena beririsan dengan resistance teknikal jangka pendek dan juga cluster likuidasi leverage yang besar. Jika Ethereum mampu menembus zona ini, peluang untuk menguji level psikologis US$2.000 akan semakin terbuka lebar. Sebaliknya, jika harga kembali tertolak di area US$1.925 hingga US$1.950, Ethereum berisiko mengalami koreksi dan turun kembali menuju support terdekat di kisaran US$1.890 hingga US$1.850.
**CPI yang Mereda dan Permintaan Spot Mendukung Pemulihan**
Data inflasi AS yang menunjukkan tren penurunan memberikan dorongan signifikan terhadap sentimen pasar aset kripto secara umum. Inflasi tahunan Juli di angka 3,4% dan perlambatan core inflation dari 2,6% menjadi 2,5% membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed dalam waktu dekat. Bagi Ethereum, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menjadi katalis positif. Sebagai aset yang sensitif terhadap perubahan likuiditas, prospek suku bunga yang stabil cenderung meningkatkan minat investor.
Selain faktor makroekonomi, permintaan spot juga turut berkontribusi pada pemulihan harga Ethereum. Data yang tersedia menunjukkan adanya penarikan sekitar 30.000 ETH oleh para holder besar dari bursa terpusat (centralized exchange). Penarikan aset dari bursa seringkali diartikan sebagai upaya mengurangi suplai yang tersedia untuk dijual dalam jangka pendek, meskipun tidak selalu menjamin para pemegang aset akan menyimpannya dalam jangka panjang.
Volume perdagangan saat breakout juga dilaporkan mengalami peningkatan sebesar 35% di atas rata-rata 20 hari. Kenaikan volume ini memberikan dukungan yang lebih kuat dibandingkan upaya-upaya sebelumnya untuk menembus US$1.900. Namun, konfirmasi lanjutan di atas US$1.925 tetap menjadi kunci untuk mengukuhkan tren naik.
**Analisis Teknikal: US$1.925 dan US$1.950 Sebagai Penentu Arah**
Secara teknikal, Ethereum kini kembali diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan sederhana (Simple Moving Average/SMA) 20 hari yang berada di kisaran US$1.894 dan SMA 100 hari di sekitar US$1.891. Kedua level ini kini berfungsi sebagai area support langsung di sekitar US$1.890. Ethereum juga masih bertahan di atas SMA 50 hari yang terletak dekat US$1.815, mengindikasikan bahwa tren pemulihan dari titik terendah Juni di sekitar US$1.520 masih terjaga.
Namun, Ethereum masih diperdagangkan di bawah SMA 200 hari yang menunjukkan tren menurun di sekitar US$2.035. Selama harga belum mampu merebut kembali area tersebut, tren jangka panjang Ethereum belum sepenuhnya beralih ke mode bullish. Indikator Awesome Oscillator masih menunjukkan angka positif di 24,13, menandakan momentum bullish belum hilang sepenuhnya. Akan tetapi, histogram terbaru mulai menunjukkan penyusutan, mengindikasikan perlunya penguatan momentum agar Ethereum mampu mempertahankan breakout.
Pada grafik empat jam, indikator Supertrend masih menandakan adanya resistance di sekitar US$1.925,49, sementara level bawahnya di sekitar US$1.887,64 menjadi support pertama. Indikator Chaikin Money Flow menunjukkan kenaikan ke 0,08, mengindikasikan adanya tekanan beli bersih, meskipun masih tergolong moderat.
**Potensi Likuidasi dan Target US$2.000**
Data liquidation heatmap selama satu pekan terakhir dari CoinGlass menunjukkan konsentrasi posisi leverage terbesar berada di sekitar US$1.950. Area ini berpotensi menjadi target selanjutnya jika Ethereum berhasil menembus resistance US$1.925. Jika ETH mampu bergerak melewati US$1.950, likuidasi posisi short dapat mempercepat kenaikan menuju US$2.000. Setelah itu, SMA 200 hari di sekitar US$2.035 akan menjadi ujian teknikal besar berikutnya.
Di sisi lain, likuiditas masih terkonsentrasi di area bawah pada level US$1.890, US$1.850, dan US$1.840. Jika Ethereum tertolak dari area US$1.925 hingga US$1.950 dan kehilangan support US$1.887, harga berisiko kembali menguji area-area support tersebut. Level US$1.850 tetap menjadi level invalidasi jangka pendek yang krusial. Jika Ethereum ditutup di bawah level tersebut, potensi penurunan harga menuju SMA 50 hari di sekitar US$1.815 akan terbuka. Pelemahan lebih lanjut bahkan dapat membuka risiko menuju area US$1.700.
Sejumlah analis memproyeksikan peluang Ethereum menuju US$2.000 jika mampu mempertahankan area US$1.900 hingga US$1.920. Crypto analyst Ted Pillows menilai Ethereum telah memantul dari US$1.850, namun masih perlu merebut kembali area US$1.900 hingga US$1.920 untuk membuka ruang kenaikan lebih lanjut. Michaël van de Poppe juga melihat Ethereum bergerak dalam fase konsolidasi dengan pola higher lows dan volatilitas yang rendah. Menurutnya, kondisi volatilitas rendah ini dapat memicu breakout besar ketika harga keluar dari rentangnya.
Secara teknikal, jalur menuju target yang lebih tinggi masih memerlukan langkah-langkah bertahap. Ethereum harus lebih dulu menembus US$1.925, melewati cluster likuidasi di US$1.950, dan kemudian merebut kembali US$2.000 sebelum target yang lebih ambisius seperti US$2.300 menjadi relevan. Untuk saat ini, pemulihan Ethereum masih terjaga berkat data CPI AS yang sesuai ekspektasi, peningkatan volume perdagangan, dan dukungan dari permintaan spot. Namun, konfirmasi breakout yang solid masih dinantikan. Level US$1.925 hingga US$1.950 akan menjadi area penentu arah pergerakan harga Ethereum selanjutnya. Jika berhasil ditembus, potensi menuju US$2.000 semakin besar. Sebaliknya, jika harga gagal bertahan di atas US$1.890, tekanan jual dapat kembali membawa ETH menguji area US$1.850.

