KabarTifa- Sejak pertengahan tahun 2024, Bitcoin (BTC) telah mencatatkan lonjakan harga yang signifikan, bergerak dari kisaran US$60.000 mendekati angka US$119.000. Namun, di balik reli yang mengesankan ini, aktivitas para penambang (miner) justru terlihat relatif pasif. Saat berita ini ditulis, BTC diperdagangkan di sekitar level US$118.000, dengan cadangan Bitcoin yang dimiliki oleh para penambang tercatat hanya sebesar 1,809 juta BTC, menjadi salah satu level terendah sejak awal tahun 2022.
Menurut laporan dari ambcrypto, aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh para penambang seringkali menjadi indikasi puncak pasar. Akan tetapi, kali ini, kedisiplinan dalam menjaga pasokan yang ditunjukkan oleh para penambang berpotensi memberikan ruang bagi arus dana dari institusi dan ETF untuk terus mendominasi momentum pasar.

Bitcoin sempat menyentuh level US$120.000, namun kemudian mengalami koreksi kembali ke sekitar US$117.900, yang mengindikasikan adanya kelelahan jangka pendek di area resistensi. Kegagalan BTC untuk menembus zona resistensi US$120.000 – US$122.000 dengan volume yang kuat dapat mengancam kelanjutan tren kenaikan. Oleh karena itu, zona US$116.000 – US$118.000 perlu dipertahankan untuk menjaga struktur tren saat ini tetap utuh.
Sentimen pasar saat ini menunjukkan penurunan, dengan weighted sentiment turun menjadi -1,03, yang mencerminkan adanya ketakutan atau keraguan dari para pelaku pasar. Selain itu, Social Dominance juga mengalami penurunan menjadi 27 persen, yang menandakan bahwa minat publik terhadap BTC mengalami penurunan dibandingkan dengan puncak sebelumnya. Kombinasi dari kedua faktor ini mengindikasikan bahwa narasi ritel sedang melemah, dan kondisi seperti ini biasanya diikuti oleh konsolidasi atau koreksi ringan.
Netflow bursa mencatat adanya penarikan sebesar US$11.700 BTC baru-baru ini, yang mengindikasikan adanya akumulasi oleh para whale dan holder jangka panjang. Tren ini berpotensi menurunkan likuiditas sisi jual dan dapat menciptakan krisis pasokan seiring berjalannya waktu. Selama tidak ada lonjakan inflow besar yang masuk ke bursa, sinyal ini tetap konsisten dengan outlook bullish.
Di pasar derivatif, posisi mulai condong ke arah bearish, yang dapat membuka peluang terjadinya short squeeze, terutama jika BTC bertahan di atas zona support. Jika para short seller mulai dilikuidasi, harga dapat melonjak tajam secara tiba-tiba, menjebak para spekulan yang bertaruh turun.
Meskipun sentimen publik memburuk dan trader derivatif mulai agresif membuka posisi short, struktur teknikal BTC masih terlihat kokoh. Selama zona US$116.000 – US$118.000 tetap bertahan, potensi reli lanjutan masih terbuka. Jika terjadi short squeeze, target berikutnya bisa mengarah ke US$124.000 – US$130.000. Namun, jika support jebol, pasar mungkin akan memasuki fase konsolidasi yang lebih dalam. Arah breakout berikutnya kini tergantung pada dua hal, yaitu sentimen pasar dan positioning leverage. Informasi ini dilansir dari kabartifa.id.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi atau saran trading. Investasi dalam aset kripto memiliki risiko tinggi. Lakukan riset mendalam sebelum berinvestasi.
