KabarTifa- XRP, dengan harga sekitar US$ 2,16 dan kapitalisasi pasar nyaris US$ 127 miliar, dinilai masih undervalue oleh banyak analis. Potensinya untuk menjadi token pembayaran global sangat besar, terutama jika Ripple menjalin kemitraan dengan lebih dari 50 bank sentral. Para ahli meyakini, kemitraan tersebut akan memicu lonjakan permintaan dan kepercayaan terhadap XRP. Namun, seberapa besar lonjakannya?
Mengutip thecryptobasic.com, sebuah analisis menggunakan model simulasi ChatGPT memproyeksikan berbagai skenario harga XRP di masa depan. Proyeksi ini bergantung pada seberapa luas XRP diadopsi dalam sistem keuangan global.

Berikut beberapa skenario yang disimulasikan ChatGPT:
-
Adopsi Sedang: XRP digunakan dalam 20-30% arus pembayaran lintas negara global.
-
Adopsi Luas: XRP menjadi sistem utama penyelesaian transaksi antar bank di negara-negara G20.
-
Adopsi Masif: XRP digunakan sebagai aset cadangan atau kliring oleh bank sentral.
-
Skenario Ultra Optimistis: XRP menjadi tulang punggung pembayaran publik dan swasta secara global.
ChatGPT menekankan bahwa skenario-skenario ini bergantung pada beberapa faktor, termasuk skalabilitas penuh platform CBDC Ripple, adopsi XRP untuk bridging dan settlement, serta regulasi yang jelas di wilayah kunci seperti Amerika dan Eropa.
Langkah Ripple menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekadar berencana, tetapi juga sudah bergerak. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyebutkan lebih dari 10 kemitraan aktif dengan pemerintah, meskipun belum semuanya dipublikasikan. Beberapa negara yang telah menjalin kerja sama pun telah disebutkan. Pada Mei 2023, Ripple juga meluncurkan platform CBDC end-to-end untuk membantu bank sentral dalam pembuatan, distribusi, dan pengelolaan mata uang digital mereka.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan nasihat investasi atau ajakan trading. Investasi kripto sangat berisiko. Lakukan riset menyeluruh sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang Anda alami.
