KabarTifa- Harga Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level rendah US$ 111.000, namun kemudian melesat hingga US$ 117.421 sebelum terkoreksi ke US$ 115.411. Saat berita ini ditulis, BTC berada di kisaran US$ 115.001, turun 2 persen dalam 24 jam terakhir. Lonjakan harga ini mengindikasikan munculnya tekanan beli yang signifikan di pasar kripto terbesar dunia.
Analis dari CryptoQuant, Axel Adler, mencatat penurunan drastis pada Spent Volume (SMA-7d), rata-rata anjlok ke 529.000 BTC per hari. Ini menunjukkan berkurangnya aktivitas penjualan besar-besaran, dengan banyak pemegang BTC memilih untuk menahan aset mereka. Data Realized Profit juga menunjukkan minat jual yang rendah setelah performa Bitcoin yang kurang mengesankan beberapa pekan terakhir.

Lebih lanjut, perilaku whale juga memberikan sinyal positif. CryptoQuant mencatat Exchange Whale Ratio turun ke level terendah 12 hari di 0,43. Artinya, whale (investor besar) mengurangi pengiriman BTC ke bursa, lebih memilih menyimpannya di dompet pribadi. Data Checkonchain mendukung hal ini, dengan MegaWhales dan Exchanges (pemilik lebih dari 10.000 BTC) mencatat penarikan bersih sebesar -20.360 BTC.
Secara historis, akumulasi oleh whale seperti ini sering menjadi pertanda awal kenaikan harga Bitcoin. Analisis terbaru menunjukkan Netflow Bitcoin berbalik negatif hingga -US$ 128 juta, menunjukkan akumulasi agresif oleh pemain besar. Jika tren ini berlanjut, Bitcoin berpotensi kembali ke level US$ 117.000 dan menguji resistance di sekitar US$ 119.600. Namun, risiko penurunan tetap ada, dengan potensi koreksi ke support penting di US$ 112.000 jika tekanan jual meningkat.
Disclaimer: Seluruh konten di kabartifa.id bertujuan informatif. Artikel ini bukanlah nasihat investasi atau saran trading. Investasi kripto berisiko tinggi dan volatil. Lakukan riset menyeluruh sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
