KabarTifa- Aliran stablecoin ke bursa kripto terpusat (CEX) memang menurun drastis. Data dari analis on-chain Axel Adler Jr. di CryptoQuant menunjukkan penurunan signifikan dari US$ 131 miliar per hari pada Desember 2024 menjadi US$ 70 miliar per hari pada Juni 2025. Namun, fenomena ini bukan pertanda bearish ekstrem, menurut Axel. Justru, ia melihatnya sebagai proses konsolidasi sehat sebelum lonjakan harga berikutnya. Bitcoin yang kokoh di atas US$ 100.000 menunjukkan keyakinan investor yang kuat.
Axel menjelaskan penurunan tersebut sebagai fase pembentukan basis ("base-building") pasca euforia bullish yang tinggi. Likuiditas yang lebih tenang membantu membentuk struktur harga yang lebih stabil. Fakta bahwa Bitcoin tetap bertahan di atas US$ 100.000 meski aliran stablecoin menurun, menunjukkan minimnya tekanan jual dan ketahanan posisi investor.

Pendapat senada disampaikan analis kripto ternama, Michael van de Poppe. Ia menyebut pasar Bitcoin tengah memasuki fase krusial yang akan menentukan breakout besar selanjutnya. Meskipun demikian, ia mengingatkan belum saatnya untuk membuka posisi besar. Harga Bitcoin saat ini tengah menguji resisten di kisaran US$ 106.500 – US$ 107.000. Penembusan level ini dengan volume tinggi berpotensi memicu reli cepat ke level tertinggi baru sepanjang masa (ATH). Sebaliknya, kegagalan menembus resisten tersebut akan menguji support di US$ 103.500 dan US$ 100.500.
Van de Poppe juga menambahkan faktor geopolitk, khususnya ketegangan di Timur Tengah, turut mempengaruhi pasar. Situasi global yang lebih tenang berpotensi memicu sentimen risk-on dan mendorong pergerakan harga Bitcoin, bahkan mengakselerasi performa altcoin.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan informatif dan bukan sebagai saran investasi atau trading. Investasi kripto berisiko tinggi. Lakukan riset mendalam sebelum berinvestasi. kabartifa.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
