Jakarta, KabarTifa- Pasar kripto kembali dihebohkan dengan potensi kenaikan harga Ethereum (ETH). Setelah dua pekan berturut-turut mencatat arus dana positif ke dalam produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis Ethereum, para analis memprediksi aset digital terbesar kedua ini bisa mengalami lonjakan harga hingga 10%. Saat ini, ETH diperdagangkan di kisaran US$1.960, menunjukkan kenaikan 2,7% dalam seminggu terakhir, meskipun sedikit terkoreksi 1,8% dalam 24 jam terakhir.
Arus Dana ETF Berbalik Arah, Sinyal Positif Pasar

KabarTifa.id melaporkan, data yang dihimpun dari BeInCrypto menunjukkan pemulihan signifikan dalam aliran dana ke ETF Ethereum spot. Setelah periode panjang arus keluar, yang puncaknya terjadi pada 20 Februari dengan outflow sekitar US$123 juta saat ETH diperdagangkan di US$1.970, dua pekan berikutnya justru menunjukkan arus masuk dana yang stabil dan positif.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Sejarah pergerakan pasar mencatat, perubahan arus dana dari negatif ke positif seringkali menjadi pemicu reli harga Ethereum. Sebagai contoh, pada November lalu, setelah arus keluar US$500 juta berbalik menjadi arus masuk US$313 juta, harga ETH melonjak 11,6%. Demikian pula pada Januari, perubahan arus dana dari -US$68 juta menjadi +US$479 juta diikuti kenaikan sekitar 7,1%. Rata-rata kenaikan dari dua peristiwa historis ini berada di kisaran 10%, memicu spekulasi serupa akan terulang.
Indikator Teknis Mendukung Potensi Rebound
Selain aliran dana yang membaik, sinyal teknikal juga memperkuat optimisme pasar. Grafik harian Ethereum menunjukkan adanya bullish divergence pada Relative Strength Index (RSI). Antara 25 Januari hingga 3 Maret, harga ETH membentuk lower low, sementara RSI justru mencatat higher low. Pola ini adalah indikator klasik yang menandakan melemahnya tekanan jual dan potensi pembalikan arah harga ke atas. Namun, sinyal positif ini akan melemah jika harga turun di bawah US$1.920, yang saat ini menjadi titik swing low penting.
Zona Resisten dan Target Kenaikan yang Dipantau
Data on-chain dari Glassnode mengidentifikasi beberapa klaster suplai yang berpotensi menjadi area tekanan jual. Resisten pertama berada di sekitar US$2.020, di mana sekitar 1,47% suplai ETH terakhir diperdagangkan. Di atasnya, terdapat zona resisten yang lebih kuat di kisaran US$2.120 hingga US$2.170, mencakup sekitar 1,5% dari total suplai Ethereum.
Jika Ethereum berhasil menembus dan bertahan di atas area resisten ini, target pemulihan berikutnya adalah sekitar US$2.140. Angka ini sejalan dengan proyeksi kenaikan sekitar 10% dari level harga saat arus dana ETF mulai kembali positif. Tim Riset Tokocrypto juga mengamini, analisis teknis URPD dan Fibonacci menunjuk pada target pemulihan di area US$2.140 jika inflow institusional terus berlanjut. "Konvergensi indikator ini memberikan basis kuat bagi holder untuk mempertahankan posisi di atas support US$1.920," terang tim riset.
Waspada Level Support Kritis
Meskipun sinyal positif bertebaran, investor perlu mewaspadai level support terdekat di sekitar US$1.930. Penurunan di bawah US$1.920 dapat membatalkan skenario rebound jangka pendek. Lebih jauh, jika tekanan jual berlanjut hingga menembus US$1.810, divergensi bullish akan batal, membuka peluang penurunan lebih dalam menuju US$1.720, bahkan hingga US$1.460.
Dengan kombinasi arus dana ETF yang kembali positif dan indikator teknikal yang mulai membaik, pelaku pasar kini menanti apakah Ethereum mampu mempertahankan momentumnya untuk memulai fase pemulihan yang signifikan.
Editor: BobonSyah


